<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#Kebangsaan Arsip - Ungkapkriminal.com</title>
	<atom:link href="https://ungkapkriminal.com/tag/kebangsaan-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://ungkapkriminal.com/tag/kebangsaan-2/</link>
	<description>Diandalkan dan ditargetkan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Jun 2026 21:39:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.5</generator>

<image>
	<url>https://ungkapkriminal.com/wp-content/uploads/2022/09/cropped-logo3-32x32.png</url>
	<title>#Kebangsaan Arsip - Ungkapkriminal.com</title>
	<link>https://ungkapkriminal.com/tag/kebangsaan-2/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>MENGAPA KORUPSI MASIH TERJADI MESKIPUN HUKUM DITEGAKKAN?</title>
		<link>https://ungkapkriminal.com/2026/06/12/mengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan/</link>
					<comments>https://ungkapkriminal.com/2026/06/12/mengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[JUNAIDI NASUTION]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2026 21:38:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline News]]></category>
		<category><![CDATA[#Akuntabilitas #BPK]]></category>
		<category><![CDATA[#AntiKorupsi]]></category>
		<category><![CDATA[#CPI]]></category>
		<category><![CDATA[#Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[#EditorialNasional]]></category>
		<category><![CDATA[#FaktaBukanDrama]]></category>
		<category><![CDATA[#GoodGovernance]]></category>
		<category><![CDATA[#Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[#Indonesia #Integritas]]></category>
		<category><![CDATA[#Kebangsaan]]></category>
		<category><![CDATA[#KebijakanPublik]]></category>
		<category><![CDATA[#Konstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[#Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[#NegaraHukum]]></category>
		<category><![CDATA[#TataKelolaPemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[#Transparansi]]></category>
		<category><![CDATA[#TransparencyInternational]]></category>
		<category><![CDATA[#UngkapKriminal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://ungkapkriminal.com/?p=9522</guid>

					<description><![CDATA[<p>KETERANGAN FOTO</p>
<p>Visual konseptual yang menggambarkan hubungan antara penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, integritas kelembagaan, dan upaya pencegahan korupsi dalam kerangka negara hukum demokratis.</p>
<p>Rajawali emas-hitam-silver yang memegang pena emas dan kitab bertuliskan "FAKTA BUKAN DRAMA" melambangkan keberanian menjaga kebenaran, independensi pers, serta komitmen terhadap integritas dan kepentingan publik. Lilitan Bendera Merah Putih merepresentasikan semangat kebangsaan, konstitusi, persatuan, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga amanat negara.</p>
<p>Labirin abstrak pada latar visual menggambarkan kompleksitas tata kelola pemerintahan, sementara cahaya yang menembus ruang gelap melambangkan harapan, transparansi, akuntabilitas, serta upaya berkelanjutan untuk mempersempit ruang penyimpangan melalui penguatan sistem dan budaya integritas.</p>
<p>"Negara yang kuat bukan hanya mampu menghukum pelanggaran, tetapi juga membangun tata kelola yang membuat penyimpangan semakin sulit dilakukan."</p>
<p>Sumber Visual: UngkapKriminal.com<br />
FAKTA BUKAN DRAMA</p>
<p>© Hak Cipta Karya Jurnalistik dan Visual Dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia serta Ketentuan Internasional yang Berlaku.</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" href="https://ungkapkriminal.com/2026/06/12/mengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan/">MENGAPA KORUPSI MASIH TERJADI MESKIPUN HUKUM DITEGAKKAN?</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="https://ungkapkriminal.com">Ungkapkriminal.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh: Redaksi UngkapKriminal.com</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Mengapa korupsi masih terus berulang meskipun hukum ditegakkan dan pelaku diproses melalui mekanisme peradilan?</p>
</blockquote>



<p>Pertanyaan tersebut bukanlah tuduhan terhadap individu, kelompok, maupun institusi tertentu. Sebaliknya, ia merupakan refleksi kritis mengenai efektivitas tata kelola negara, kualitas pengawasan, budaya integritas, serta kemampuan sistem untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan sebelum kerugian publik terjadi.</p>



<p>Dalam perspektif filsafat hukum, keberhasilan suatu negara tidak hanya diukur dari kemampuannya menghukum pelanggaran, tetapi juga dari kemampuannya membangun sistem yang memperkecil peluang terjadinya pelanggaran.</p>



<p>Hukum yang baik tidak hanya represif setelah kejahatan terjadi, tetapi juga preventif sebelum kejahatan memperoleh kesempatan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>LANDASAN KONSTITUSIONAL DAN KEBANGSAAN</p>



<p>Indonesia adalah negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.</p>



<p>Konstitusi menjamin persamaan di hadapan hukum, kepastian hukum yang adil, perlindungan hak asasi manusia, akuntabilitas pemerintahan, serta terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.</p>



<p>Dalam kerangka tersebut, pemberantasan korupsi bukan sekadar agenda penegakan hukum, melainkan bagian dari upaya menjaga amanat konstitusi dan kepercayaan publik terhadap negara.</p>



<p>Kritik terhadap korupsi yang dilakukan secara bertanggung jawab bukanlah bentuk ketidaksetiaan kepada negara. Sebaliknya, kritik yang berbasis fakta, hukum, dan kepentingan publik merupakan bagian penting dari demokrasi konstitusional.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>KORUPSI SEBAGAI MASALAH SISTEMIK</p>



<p>Korupsi sering dipahami sebagai persoalan moral individu. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru, namun tidak cukup menjelaskan kompleksitas persoalan.</p>



<p>Berbagai studi tata kelola menunjukkan bahwa korupsi cenderung berkembang ketika terdapat kombinasi kewenangan yang besar, pengawasan yang lemah, transparansi yang rendah, konflik kepentingan yang tidak dikelola, serta budaya organisasi yang permisif terhadap penyimpangan.</p>



<p>Dalam kondisi demikian, penegakan hukum dapat menangkap pelaku, tetapi belum tentu menghilangkan sumber peluang yang melahirkan pelaku berikutnya.</p>



<p>Karena itu, pemberantasan korupsi memerlukan reformasi kelembagaan, penguatan pengawasan, peningkatan transparansi, dan pembangunan budaya integritas yang berkelanjutan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>DATA EMPIRIS, TATA KELOLA, DAN TANTANGAN PENCEGAHAN</p>



<p>Perdebatan mengenai efektivitas pemberantasan korupsi tidak dapat dilepaskan dari data empiris dan evaluasi tata kelola yang tersedia.</p>



<p>Salah satu indikator yang sering digunakan secara internasional adalah Corruption Perceptions Index (CPI) yang diterbitkan Transparency International. Menurut CPI 2025, Indonesia memperoleh skor 42 dari skala 0–100. Indikator tersebut menunjukkan bahwa penguatan integritas, transparansi, dan akuntabilitas sektor publik masih menjadi agenda penting dalam pembangunan tata kelola pemerintahan yang baik.</p>



<p>Di tingkat nasional, fungsi pengawasan dan pemeriksaan keuangan negara juga menunjukkan pentingnya upaya pencegahan. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) Tahun 2024 melaporkan berbagai temuan yang menghasilkan potensi penyelamatan dan pengamanan keuangan negara hingga puluhan triliun rupiah melalui rekomendasi perbaikan tata kelola, koreksi administrasi, serta tindak lanjut hasil pemeriksaan dan pengawasan.</p>



<p>Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan pemberantasan korupsi tidak hanya berkaitan dengan penindakan terhadap pelaku, tetapi juga dengan kemampuan sistem mendeteksi, mencegah, dan menutup celah penyimpangan sebelum kerugian yang lebih besar terjadi.</p>



<p>Dalam perspektif tata kelola modern, penindakan tanpa pencegahan berisiko menghasilkan siklus pelanggaran yang berulang. Sebaliknya, pencegahan tanpa penegakan hukum yang tegas dapat melemahkan efek jera dan kepastian hukum.</p>



<p>Oleh karena itu, penindakan dan pencegahan harus berjalan secara simultan dalam kerangka negara hukum demokratis.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>PERSPEKTIF PARA PEMIKIR</p>



<p>Mohammad Hatta mengingatkan bahwa kemerdekaan harus dijaga melalui kejujuran dan tanggung jawab penyelenggara negara.</p>



<p>Satjipto Rahardjo menegaskan bahwa hukum harus menghadirkan keadilan substantif, bukan sekadar prosedur formal.</p>



<p>Romli Atmasasmita memandang korupsi sebagai kejahatan luar biasa yang membutuhkan pendekatan luar biasa.</p>



<p>Mahfud MD menekankan pentingnya supremasi hukum yang bebas dari intervensi kepentingan.</p>



<p>Franz Magnis-Suseno mengingatkan bahwa krisis etika sering kali menjadi akar penyimpangan kekuasaan.</p>



<p>Amartya Sen menunjukkan bahwa institusi publik yang akuntabel memiliki peran penting dalam mempersempit ruang korupsi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.</p>



<p>Sementara itu, Lord Acton mengemukakan peringatan yang tetap relevan hingga kini bahwa kekuasaan yang tidak diawasi berpotensi melahirkan penyalahgunaan kekuasaan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>PENINDAKAN DAN PENCEGAHAN HARUS BERJALAN BERSAMA</p>



<p>Pemberantasan korupsi memerlukan keseimbangan antara penindakan dan pencegahan.</p>



<p>Penindakan memberikan kepastian hukum, akuntabilitas, dan efek jera. Sementara itu, pencegahan bertujuan memperkecil peluang terjadinya penyimpangan sebelum kerugian publik muncul.</p>



<p>Langkah yang perlu terus diperkuat antara lain:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Transparansi anggaran publik.</li>



<li>Digitalisasi pelayanan pemerintahan.</li>



<li>Penguatan sistem audit dan pengawasan internal.</li>



<li>Perlindungan pelapor pelanggaran (whistleblower).</li>



<li>Pengelolaan konflik kepentingan.</li>



<li>Pendidikan antikorupsi.</li>



<li>Penguatan integritas aparatur negara.</li>



<li>Partisipasi masyarakat dalam pengawasan.</li>
</ul>



<p>Dengan demikian, sistem tidak hanya mampu menghukum pelaku, tetapi juga mampu mempersempit ruang penyimpangan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>REFLEKSI KEBANGSAAN</p>



<p>Korupsi pada akhirnya bukan sekadar persoalan hukum, melainkan juga persoalan kepercayaan.</p>



<p>Ketika korupsi terjadi, yang dirugikan bukan hanya keuangan negara, tetapi juga kualitas pendidikan, kesehatan, pembangunan, pelayanan publik, dan masa depan generasi berikutnya.</p>



<p>Karena itu, pemberantasan korupsi harus dipahami sebagai ikhtiar kolektif untuk menjaga martabat bangsa dan memastikan bahwa kekuasaan dijalankan sesuai amanat konstitusi.</p>



<p>Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak pernah menghadapi penyimpangan, melainkan bangsa yang memiliki keberanian memperbaiki sistem, memperkuat integritas, dan menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>PENUTUP</p>



<p>Pertanyaan mengenai mengapa korupsi masih terjadi meskipun hukum ditegakkan seharusnya tidak dipahami sebagai bentuk pesimisme terhadap negara hukum.</p>



<p>Sebaliknya, pertanyaan tersebut merupakan ajakan untuk terus mengevaluasi apakah penegakan hukum telah berjalan beriringan dengan penguatan sistem pencegahan.</p>



<p>Sebab hukum yang efektif tidak hanya mampu menghukum pelanggaran setelah terjadi, tetapi juga mampu membangun tata kelola yang membuat pelanggaran semakin sulit dilakukan.</p>



<p>Pada akhirnya, keberhasilan pemberantasan korupsi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pelaku yang dihukum, melainkan oleh semakin sempitnya ruang bagi penyimpangan untuk tumbuh dan berkembang.</p>



<p>Negara yang kuat bukanlah negara yang bebas dari tantangan, melainkan negara yang mampu memperbaiki diri, memperkuat integritas, dan memastikan bahwa setiap kewenangan dijalankan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat.</p>



<p>Di titik itulah cita-cita negara hukum, demokrasi konstitusional, dan keadilan sosial dapat diwujudkan secara lebih nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>CATATAN REDAKSI</p>



<p>Artikel ini merupakan opini dan analisis yang disusun berdasarkan prinsip negara hukum, konstitusi, literatur akademik, etika publik, hak asasi manusia, serta nilai-nilai kebangsaan.</p>



<p>Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai tuduhan, vonis, atau penilaian terhadap individu, kelompok, organisasi, maupun institusi tertentu.</p>



<p>Redaksi menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, hak jawab, hak koreksi, keberimbangan, serta ketentuan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.</p>



<p>© Hak Cipta Karya Jurnalistik Dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia dan Ketentuan Internasional yang Berlaku.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F12%2Fmengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan%2F&amp;linkname=MENGAPA%20KORUPSI%20MASIH%20TERJADI%20MESKIPUN%20HUKUM%20DITEGAKKAN%3F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_twitter" href="https://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F12%2Fmengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan%2F&amp;linkname=MENGAPA%20KORUPSI%20MASIH%20TERJADI%20MESKIPUN%20HUKUM%20DITEGAKKAN%3F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_email" href="https://www.addtoany.com/add_to/email?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F12%2Fmengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan%2F&amp;linkname=MENGAPA%20KORUPSI%20MASIH%20TERJADI%20MESKIPUN%20HUKUM%20DITEGAKKAN%3F" title="Email" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F12%2Fmengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan%2F&amp;linkname=MENGAPA%20KORUPSI%20MASIH%20TERJADI%20MESKIPUN%20HUKUM%20DITEGAKKAN%3F" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_pinterest" href="https://www.addtoany.com/add_to/pinterest?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F12%2Fmengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan%2F&amp;linkname=MENGAPA%20KORUPSI%20MASIH%20TERJADI%20MESKIPUN%20HUKUM%20DITEGAKKAN%3F" title="Pinterest" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_google_gmail" href="https://www.addtoany.com/add_to/google_gmail?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F12%2Fmengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan%2F&amp;linkname=MENGAPA%20KORUPSI%20MASIH%20TERJADI%20MESKIPUN%20HUKUM%20DITEGAKKAN%3F" title="Gmail" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_dd addtoany_share_save addtoany_share" href="https://www.addtoany.com/share#url=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F12%2Fmengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan%2F&#038;title=MENGAPA%20KORUPSI%20MASIH%20TERJADI%20MESKIPUN%20HUKUM%20DITEGAKKAN%3F" data-a2a-url="https://ungkapkriminal.com/2026/06/12/mengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan/" data-a2a-title="MENGAPA KORUPSI MASIH TERJADI MESKIPUN HUKUM DITEGAKKAN?"></a></p><p>Artikel <a rel="nofollow" href="https://ungkapkriminal.com/2026/06/12/mengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan/">MENGAPA KORUPSI MASIH TERJADI MESKIPUN HUKUM DITEGAKKAN?</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="https://ungkapkriminal.com">Ungkapkriminal.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ungkapkriminal.com/2026/06/12/mengapa-korupsi-masih-terjadi-meskipun-hukum-ditegakkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MANUSIA MATI DEMI HARTA, BINATANG MATI UNTUK MAKAN?</title>
		<link>https://ungkapkriminal.com/2026/06/11/manusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan/</link>
					<comments>https://ungkapkriminal.com/2026/06/11/manusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[JUNAIDI NASUTION]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 18:56:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[📂 Sastra Profetik | Sastra Jurnalistik | Filsafat Sosial | Kritik Sosial | Editorial | Opini | Humaniora | Kebangsaan]]></category>
		<category><![CDATA[#Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[#Etika]]></category>
		<category><![CDATA[#FaktaBukanDrama]]></category>
		<category><![CDATA[#FilsafatHidup]]></category>
		<category><![CDATA[#Humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[#JunedyNasution]]></category>
		<category><![CDATA[#Kebangsaan]]></category>
		<category><![CDATA[#Keserakahan #RasaCukup]]></category>
		<category><![CDATA[#KritikSosial]]></category>
		<category><![CDATA[#ManusiaDanHarta]]></category>
		<category><![CDATA[#Moralitas]]></category>
		<category><![CDATA[#Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#PemikiranKritis]]></category>
		<category><![CDATA[#PerspektifProfetik]]></category>
		<category><![CDATA[#RefleksiSosial]]></category>
		<category><![CDATA[#RenunganKehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[#SastraJurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[#SastraProfetik]]></category>
		<category><![CDATA[#UngkapKriminal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://ungkapkriminal.com/?p=9502</guid>

					<description><![CDATA[<p>Keterangan Foto:</p>
<p>Ilustrasi visual reflektif tentang paradoks manusia modern antara kebutuhan dan keserakahan. Sosok bayangan manusia digambarkan berdiri di antara kemewahan duniawi dan hukum alam, sementara rajawali hitam-emas memegang pena emas serta kitab bertuliskan FAKTA BUKAN DRAMA sebagai simbol keberanian, intelektualitas, integritas jurnalistik, dan pencarian kebenaran.</p>
<p>* pesan utama karya sastra profetik</p>
<p> "Manusia Mati Demi Harta, Binatang Mati Untuk Makan", bahwa binatang hidup dan mati mengikuti kebutuhan alamiah, sedangkan manusia sering kali terjebak dalam hasrat yang tak pernah mengenal batas kecukupan.</p>
<p>"Binatang mati karena kebutuhan hidup, sedangkan manusia sering kali kehilangan hidup karena tidak pernah merasa cukup."</p>
<p>Ilustrasi: UngkapKriminal.com<br />
Karya Sastra Profetik: Junedy Nasution</p>
<p>© Hak Cipta Karya Jurnalistik dan Visual Dilindungi Undang-Undang Nasional dan Internasional. :::</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" href="https://ungkapkriminal.com/2026/06/11/manusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan/">MANUSIA MATI DEMI HARTA, BINATANG MATI UNTUK MAKAN?</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="https://ungkapkriminal.com">Ungkapkriminal.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-video"><video height="1280" style="aspect-ratio: 720 / 1280;" width="720" controls src="https://ungkapkriminal.com/wp-content/uploads/2026/06/FB_Junedy-Nasution_20260612_02_46_28_1781207198784.mp4"></video></figure>



<p>| Karya Sastra Profetik: Junedy Nasution  |</p>



<p>Manusia mengejar bayang-bayang yang dicetak tangannya sendiri,</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>binatang menelusuri jejak lapar yang ditulis alam.</p>
</blockquote>



<p>Yang satu membangun gudang demi gudang,</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>yang lain cukup menemukan sepotong kehidupan.</p>
</blockquote>



<p>Lalu emas diberi takhta,<br>angka diberi kehormatan,</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>dan kecukupan diadili sebagai kegagalan.</p>
</blockquote>



<p>Di pasar, di kantor, di istana, di jalanan,<br>orang-orang berlomba memikul miliknya,</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>hingga lupa membawa dirinya.</p>
</blockquote>



<p>Mereka menambang bumi,<br>menggadaikan waktu,<br>menukar nurani dengan lambang kemakmuran,</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>lalu menyebutnya kemajuan.</li>
</ul>



<p>Sementara itu,</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>seekor burung jatuh karena mencari biji,</p>
</blockquote>



<p>seekor rusa rebah karena mencari rumput.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Binatang mati untuk makan.</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Manusia kadang mati mengejar sesuatu<br>yang bahkan tak dapat dimakannya.</p>
</blockquote>



<p>Yang satu tunduk pada hukum alam,</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>yang lain menjadi tawanan ciptaannya sendiri.</p>
</blockquote>



<ul class="wp-block-list">
<li>Maka persoalannya bukan berapa banyak harta yang terkumpul,</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>melainkan berapa banyak manusia yang tersisa<br>ketika harta naik menjadi tujuan,<br>dan kehidupan turun menjadi sekadar alat.</p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<ul class="wp-block-list">
<li>Perspektif Profetik</li>



<li>Allah SWT berfirman:</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.&#8221;<br>(QS. At-Takatsur: 1–2)</p>
</blockquote>



<ul class="wp-block-list">
<li>Makna:<br>Al-Qur&#8217;an mengingatkan bahwa perlombaan memperbanyak kekayaan, jabatan, dan pengaruh dapat membuat manusia lupa tujuan hidupnya. Ketika akumulasi menjadi orientasi utama, manusia berisiko kehilangan kesadaran akan nilai kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya.</li>



<li>Rasulullah SAW bersabda:</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah emas.&#8221;<br>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
</blockquote>



<ul class="wp-block-list">
<li>Makna:<br>Hasrat manusia tidak selalu berhenti pada kecukupan. Karena itu Islam tidak melarang harta, tetapi memperingatkan agar harta tidak menguasai hati dan mengubah manusia menjadi budak keinginan yang tak berujung.</li>
</ul>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<ul class="wp-block-list">
<li>Catatan Intelektual Redaksi</li>



<li>Tulisan ini bukan kritik terhadap kerja keras, perdagangan, investasi, atau kemakmuran.<br>Yang dikritik adalah ketika harta berubah dari alat menjadi tujuan, ketika angka lebih dihormati daripada integritas, dan ketika manusia mengukur martabat hanya dari kepemilikan.</li>



<li>Binatang mencari makan untuk mempertahankan hidup.<br>Manusia diberi akal untuk memberi makna pada kehidupan.</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Ironisnya, dalam banyak keadaan, akal yang seharusnya membimbing<br>justru dipakai untuk membenarkan keserakahan.</p>
</blockquote>



<ul class="wp-block-list">
<li>Kemajuan yang sejati bukanlah bertambahnya kekayaan tanpa batas,<br>melainkan bertambahnya kebijaksanaan dalam menggunakan kekayaan tersebut demi kemaslahatan sesama.</li>
</ul>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<ul class="wp-block-list">
<li>Editorial Sastra</li>



<li>Barangkali krisis terbesar zaman ini bukan kekurangan sumber daya,</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>melainkan kekurangan rasa cukup.</p>
</blockquote>



<ul class="wp-block-list">
<li>Gedung semakin tinggi, tetapi horizon moral semakin rendah.<br>Angka pertumbuhan terus diumumkan, sementara nilai kemanusiaan sering kali disembunyikan di catatan kaki.</li>



<li>Kita menyaksikan dunia yang mampu menghitung keuntungan hingga digit terakhir,<br>tetapi sering gagal menghitung harga sebuah kejujuran.</li>



<li>Jika segala sesuatu diukur dengan nilai pasar, maka nurani perlahan kehilangan harga.</li>
</ul>



<p>Pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa banyak yang berhasil dikumpulkan manusia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Sejarah akan bertanya</p>
</blockquote>



<p>apa yang dilakukan manusia dengan apa yang telah dikumpulkannya.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Sebab harta hanyalah alat perjalanan.<br>Ia tidak pernah diciptakan untuk menjadi tujuan akhir.</li>



<li>Dan ketika manusia menjadikan harta sebagai tujuan hidup,<br>sesungguhnya ia sedang berjalan menjauhi dirinya sendiri.</li>
</ul>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Disclaimer</p>



<p>Karya ini merupakan ekspresi sastra profetik, refleksi filosofis, dan kritik sosial yang bertujuan mendorong perenungan moral, etika, dan kemanusiaan.</p>



<p>Seluruh narasi, metafora, simbol, dan ilustrasi dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyerang, menghakimi, atau merujuk kepada individu, kelompok, lembaga, profesi, maupun pihak tertentu secara spesifik.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Junedy Nasution</p>



<p>© Hak Cipta Karya</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Jurnalistik dan Visual Dilindungi Undang-Undang Nasional dan Internasional.<br>Dilarang memperbanyak, menyalin, mendistribusikan, atau menggunakan sebagian maupun seluruh isi tanpa izin tertulis dari pemegang hak cipta. :::</p>
</blockquote>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F11%2Fmanusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan%2F&amp;linkname=MANUSIA%20MATI%20DEMI%20HARTA%2C%20BINATANG%20MATI%20UNTUK%20MAKAN%3F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_twitter" href="https://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F11%2Fmanusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan%2F&amp;linkname=MANUSIA%20MATI%20DEMI%20HARTA%2C%20BINATANG%20MATI%20UNTUK%20MAKAN%3F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_email" href="https://www.addtoany.com/add_to/email?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F11%2Fmanusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan%2F&amp;linkname=MANUSIA%20MATI%20DEMI%20HARTA%2C%20BINATANG%20MATI%20UNTUK%20MAKAN%3F" title="Email" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F11%2Fmanusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan%2F&amp;linkname=MANUSIA%20MATI%20DEMI%20HARTA%2C%20BINATANG%20MATI%20UNTUK%20MAKAN%3F" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_pinterest" href="https://www.addtoany.com/add_to/pinterest?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F11%2Fmanusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan%2F&amp;linkname=MANUSIA%20MATI%20DEMI%20HARTA%2C%20BINATANG%20MATI%20UNTUK%20MAKAN%3F" title="Pinterest" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_google_gmail" href="https://www.addtoany.com/add_to/google_gmail?linkurl=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F11%2Fmanusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan%2F&amp;linkname=MANUSIA%20MATI%20DEMI%20HARTA%2C%20BINATANG%20MATI%20UNTUK%20MAKAN%3F" title="Gmail" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_dd addtoany_share_save addtoany_share" href="https://www.addtoany.com/share#url=https%3A%2F%2Fungkapkriminal.com%2F2026%2F06%2F11%2Fmanusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan%2F&#038;title=MANUSIA%20MATI%20DEMI%20HARTA%2C%20BINATANG%20MATI%20UNTUK%20MAKAN%3F" data-a2a-url="https://ungkapkriminal.com/2026/06/11/manusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan/" data-a2a-title="MANUSIA MATI DEMI HARTA, BINATANG MATI UNTUK MAKAN?"></a></p><p>Artikel <a rel="nofollow" href="https://ungkapkriminal.com/2026/06/11/manusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan/">MANUSIA MATI DEMI HARTA, BINATANG MATI UNTUK MAKAN?</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="https://ungkapkriminal.com">Ungkapkriminal.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ungkapkriminal.com/2026/06/11/manusia-mati-demi-harta-binatang-mati-untuk-makan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://ungkapkriminal.com/wp-content/uploads/2026/06/FB_Junedy-Nasution_20260612_02_46_28_1781207198784.mp4" length="7041515" type="video/mp4" />

			</item>
	</channel>
</rss>
