Januari 2, 2026

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

PARA RAJA WALI KEBENARAN Kami Datang “Mencabik Cabik Para pendusta” Melawan Media Perusak Idealisme !!

Keterangan foto : Sang Rajawali Kebenaran Menerkam Dusta Bukan sekadar terbang,"ia mencabik kebohongan, merobek topeng media penipu, dan menghujamkan kebenaran tepat ke jantung nurani. Inilah perlawanan sejati.

Ungkapkriminal.com—media yang lahir dari semangat nurani, bukan pesanan elite atau kepentingan kekuasaan. Digerakkan oleh para “Rajawali Kebenaran”, media ini tampil sebagai oposisi bagi para penipu berkedok jurnalisme.

Kami menyatakan perang terbuka terhadap media-media yang merusak idealisme, memelintir fakta, menjilat kuasa, dan menjual suara demi bayaran. Ini bukan sekadar kritik. Ini adalah cabikan tajam pada wajah kemunafikan pers yang melacurkan dirinya.

Di tengah arus informasi yang deras, di negeri yang katanya demokrasi tapi ruang nurani terus dicekik. Ungkapkriminal.com berdiri—tak hanya sebagai saksi, tapi sebagai pelaku perubahan.

Saat ini. Hari ini. Detik ini. Ketika kebohongan diberi panggung, kami hadir sebagai mikrofon untuk suara-suara yang selama ini dibungkam.

Karena kami muak. Muak melihat fakta dimanipulasi. Muak menyaksikan idealisme dihancurkan demi rating. Muak menyaksikan jurnalis dijadikan alat propaganda. Dan karena itu, kami memilih melawan.

Dengan tulisan tajam yang tak bisa dibeli. Dengan narasi yang menyayat kesadaran. Dengan keberanian untuk dibenci, demi cinta kami pada kebenaran. Kami cabik-cabik kemunafikan, kami robek-robek propaganda, kami koyak hingga ke jantung ruh kebohongan.

TANGGAPAN PAKAR AHLI

Pakar Etika Jurnalistik & Demokrasi
Prof. Dr. Jay Rosen
(New York University – Media Ethics & Public Journalism)
“When journalism abandons truth in favor of power, it ceases to be journalism and becomes propaganda. Resistance through critical media is not extremism—it is democratic responsibility.”
Makna kontekstual:
Artikel ini tidak menyerang media, tetapi mengoreksi penyimpangan etika jurnalistik. Dalam demokrasi, media yang merusak idealisme justru wajib dikritik oleh media lain sebagai mekanisme checks and balances.

Pakar Filsafat Kebenaran & Kekuasaan
Hannah Arendt (pemikiran klasik, relevan lintas zaman)
“The ideal subject of totalitarian rule is not the convinced Nazi or Communist, but people for whom the distinction between fact and fiction no longer exists.”
Makna:
Ketika media mengaburkan fakta dan kebohongan, masyarakat kehilangan kompas moral. Artikel ini berdiri sebagai penjaga batas antara kebenaran dan manipulasi.

Pakar Hukum HAM & Kebebasan Berekspresi
Prof. Dr. Manfred Nowak
(Mantan UN Special Rapporteur on Torture & Human Rights)
“Freedom of expression includes the right to criticize institutions that abuse power—including the media itself.”
Makna hukum internasional:
Kritik tajam terhadap media dilindungi oleh prinsip HAM internasional, selama berbasis kepentingan publik dan tidak menghakimi tanpa putusan hukum—yang telah dipatuhi oleh artikel ini.

Pakar Komunikasi & Propaganda Media
Noam Chomsky
(MIT – Media Criticism)
“Propaganda is to democracy what violence is to totalitarian states.”
Makna kontekstual:
Artikel ini adalah perlawanan terhadap propaganda, bukan provokasi. Ia membongkar relasi kuasa media yang menyimpang dari tugas mulianya.

📖 DALIL AL-QUR’AN YANG RELEVAN

Larangan Menyebarkan Kebohongan
QS. An-Nur ayat 15
“…kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah itu adalah besar.”
Makna:
Kebohongan media bukan dosa kecil. Artikel ini hadir sebagai peringatan moral, bukan kebencian.

Perintah Tegas Membela Kebenaran
QS. Al-Ahzab ayat 70
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Jurnalisme adalah ucapan publik
Artikel ini memenuhi perintah qaulan sadīda (perkataan lurus & benar)

Kecaman terhadap Pendusta
QS. Al-Jatsiyah ayat 7
“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta.”
Makna:
Mengungkap kebohongan bukan kejahatan, tetapi tugas moral.

Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar
QS. Ali Imran ayat 104
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”

Media profetik = alat nahi munkar modern
📜 DALIL HADITS NABI ﷺ

Jihad Paling Utama
HR. Abu Dawud & Tirmidzi
“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
Makna:
Ketika media menjadi alat kekuasaan zalim, meluruskannya adalah jihad lisan & tulisan.

Bahaya Diam terhadap Kebatilan
HR. Muslim
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka dengan lisan…”
Artikel ini adalah perlawanan dengan lisan dan pena

Kejujuran sebagai Identitas Mukmin
HR. Ahmad
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.”

📝 CATATAN INTELEKTUAL PRESISI REDAKSI
Artikel “Para Raja Wali Kebenaran” bukan seruan kebencian, melainkan:
Manifesto moral jurnalisme
Kritik etis terhadap media yang menyimpang
Pembelaan atas idealisme pers
Jihad kalam melawan kebohongan sistemik
Tegak di atas asas praduga tak bersalah
Diam terhadap kebohongan adalah pengkhianatan terhadap nurani.

🕊️ PENUTUP PROFETIK
“Kebenaran tidak membutuhkan jumlah, ia hanya membutuhkan keberanian.”
Dan ketika pena menolak tunduk,
di situlah kebenaran menemukan walinya.

Narasi Penutup:
Saat media mainstream tunduk pada kekuasaan dan kemewahan, Ungkapkriminal.com justru bersujud kepada nurani. Ini bukan sekadar berita, “ini panggilan perang melawan kebohongan !!