UngkapKriminal.com | Breaking Headline Investigative – Sastra Profetik
Di panggung republik yang kian samar oleh suara nurani, para aktor kekuasaan tampil dengan wajah ganda. Di depan publik mereka berbicara tentang hukum, etika, dan keadilan. Namun di balik tirai, naskah lain dimainkan—ditulis dengan tinta kepentingan, disutradarai oleh keserakahan, dan dipentaskan dengan topeng kemunafikan.
Mereka menyebutnya strategi.
Sejarah menyebutnya pengkhianatan.
Al-Qur’an menyebutnya penipuan terhadap diri sendiri.
Ayat وَمَا يَشْعُرُونَ bukan sekadar peringatan teologis, melainkan vonis moral universal: siapa pun yang memanipulasi kebenaran, pada akhirnya sedang menggali kubur etikanya sendiri—tanpa sadar.
Fenomena yang Disorot
Fenomena sistemik kemunafikan kekuasaan dan elite terus berulang: manipulasi fakta, pembungkaman kritik, pembelokan hukum, serta normalisasi ketidakjujuran yang dikemas rapi atas nama stabilitas dan kepentingan negara.
Para pemegang otoritas publik—politik, birokrasi, penegak hukum, hingga simpul kekuasaan non-formal—secara sadar atau terstruktur memelintir kebenaran, sembari mengklaim diri sebagai penjaga moral dan konstitusi.
Ini bukan peristiwa tunggal, melainkan pola berulang yang menguat pada fase-fase krisis demokrasi, terutama ketika kritik dianggap ancaman dan kebenaran diperlakukan sebagai musuh.
—
Pendapat Pakar & Ahli
Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie (Pakar Hukum Tata Negara)
Dalam banyak kajiannya, Jimly menegaskan bahwa negara hukum runtuh bukan pertama-tama oleh senjata, tetapi oleh kebohongan yang dilembagakan.
“Jika hukum dijadikan alat kekuasaan, maka yang hancur bukan hanya keadilan, tetapi legitimasi negara itu sendiri.”
Rocky Gerung (Filsuf & Pengamat Demokrasi)
Rocky menyebut kemunafikan kekuasaan sebagai penyakit kronis republik modern:
“Kebohongan politik selalu lahir dari ketakutan pada kebenaran. Kekuasaan yang takut dikritik pasti sedang menyembunyikan sesuatu.”
Prof. Dr. M. Quraish Shihab (Ulama & Mufasir Al-Qur’an)
Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menjelaskan QS. Al-Baqarah: 9 sebagai kondisi psikologis orang munafik:
“Mereka merasa paling cerdas, padahal justru terjebak dalam ilusi. Penipuan itu kembali kepada diri mereka sendiri karena Allah Maha Mengetahui.”
Bagaimana Pola Ini Bekerja?
Pola kemunafikan kekuasaan berjalan melalui:
Mengaburkan fakta dengan narasi resmi
Mengkriminalisasi kritik atas nama ketertiban
Menerapkan hukum secara selektif
Menormalisasi kebohongan melalui repetisi dan propaganda
Semua dilakukan dengan keyakinan palsu bahwa publik dapat dibodohi selamanya.
Analisis Sastra Satire Profetik
Mereka lupa satu hal mendasar:
Kebenaran tidak pernah membutuhkan izin kekuasaan untuk hidup.
Dalam satire profetik ini, kekuasaan digambarkan sebagai cermin retak. Setiap kebohongan yang dilemparkan ke publik justru memantul kembali, melukai wajah para pelakunya sendiri.
Mereka mengira sedang menipu rakyat.
Padahal yang mereka tipu adalah akal sehat, integritas, dan masa depan mereka sendiri.
Ayat ini menampar keras ilusi itu:
“وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ”
Mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri.
Inilah tragedi terbesar kekuasaan munafik: merasa paling pintar, padahal paling telanjang di hadapan sejarah.
Landasan Hukum Nasional
UUD 1945 Pasal 1 ayat (3)
Indonesia adalah negara hukum—bukan negara tipu daya.UUD 1945 Pasal 28D ayat (1)
Jaminan kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang sama di hadapan hukum.UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM
Menjamin kebebasan berpendapat dan perlindungan dari penyalahgunaan kekuasaan.KUHP & UU Tipikor
Manipulasi dan penyalahgunaan wewenang memiliki konsekuensi pidana jika terbukti.
Landasan HAM Internasional
Universal Declaration of Human Rights (UDHR)
Pasal 19: Kebebasan berpendapat dan berekspresi
Pasal 21: Pemerintahan harus mencerminkan kehendak rakyat
International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)
Negara wajib menjamin transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan terhadap suara kritis.
Catatan Intelektual Presisi Redaksi
Artikel ini tidak menuduh individu tertentu, melainkan mengungkap pola dan watak sistemik yang berulang dalam sejarah kekuasaan. Asas praduga tak bersalah tetap dijunjung tinggi. Namun, dalam jurnalisme profetik, diam terhadap kebohongan adalah bentuk lain dari pengkhianatan terhadap kebenaran.
UngkapKriminal.com berdiri pada posisi konstitusi, nurani publik, dan nilai keadilan universal.
Penutup Profetik
Allah mengingatkan, bukan karena Dia tidak tahu,
melainkan karena manusia sering lupa—
bahwa kebohongan paling berbahaya
adalah kebohongan yang diyakini pelakunya sendiri.
﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”
(QS. Al-Anfal: 58)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ…”
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sejarah tidak pernah tertipu.
Kebenaran mungkin terluka,
tetapi ia tidak pernah mati.
UngkapKriminal.com
Jurnalisme Profetik | Kalam Kebenaran Melawan Kebatilan
Profesional • Intelektual • Presisi Investigatif • Pro-Konstitusi • Pro-HAM



More Stories
هُوَ ٱللّٰهُ هُوَ DIA ADALAH DIA الْحَقُّ MAHA BENAR DIA
Tahun Baru Islam di Talang Mandi: Tabligh Akbar, Doa Kaum Dhuafa, dan Jihad Membersihkan Hati
BELASUNGKAWA MENDALAM Dari Keluarga Besar Media PT. UNGKAP KRIMINAL NEWS Turut berduka cita atas berpulangnya: Bapak Dr. Sri Odit Megonondo, SH, M.H. Kepala Kejaksaan Negeri Bengkalis