Januari 25, 2026

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

Ya Allah, Anugerahkan Ketenangan Hati, Ketentraman Jiwa, dan Akhlak yang Baik Saat Aku Marah 🤲

Keterangan Foto: Tampilan doa dalam aksara Arab bertuliskan “Allahumma arzuqni sakīnat al-qalb, wa ṭuma’nīnat an-nafs, wa ḥusn al-akhlāq ‘inda al-ghaḍab” — “Ya Allah, anugerahkan ketenangan hati, ketenteraman jiwa, dan akhlak yang baik saat aku marah.” Doa ini menjadi simbol perlawanan batin terhadap amarah serta pengingat bahwa kekuatan sejati lahir dari pengendalian diri dan kemuliaan akhlak.

UngkapKriminal.com | Breaking Headline News – Sastra Profetik Investigative

FAKTA BUKAN DRAMA

INDONESIA —

Ada pertempuran yang tidak terdengar letusan senjata, tidak meninggalkan puing bangunan, dan tidak tercatat dalam statistik konflik global. Namun ia jauh lebih Mendalam sekaligus lebih menentukan: pertempuran melawan amarah di dalam diri manusia.

Di tengah dunia yang kian bising oleh provokasi, ujaran kebencian, tekanan ekonomi, dan rapuhnya relasi sosial, satu doa sederhana bergema sebagai manifesto kemanusiaan:

“Ya Allah, anugerahkan ketenangan hati, ketentraman jiwa, dan akhlak yang baik saat aku marah.”

Kalimat ini bukan sekadar untaian spiritual, melainkan deklarasi etika universal—bahwa peradaban tidak diukur dari kecanggihan teknologi, melainkan dari kemampuan manusia menundukkan egonya.

Marah: Energi Psikologis yang Menentukan Arah Bangsa
Secara ilmiah, amarah adalah respons neurobiologis terhadap ancaman. Namun ketika tidak dikelola, ia berubah menjadi pintu masuk kekerasan struktural, konflik rumah tangga, hingga kehancuran sosial.

“Prof. Dr. Daniel Goleman (Amerika Serikat), psikolog dunia dan pelopor konsep Emotional Intelligence, dalam kajiannya menegaskan bahwa kegagalan mengelola emosi—terutama marah—menjadi faktor utama runtuhnya kepemimpinan, relasi keluarga, dan kohesi sosial.

“Self-regulation is the backbone of civilization. Without it, intelligence becomes dangerous.”
(Pengendalian diri adalah tulang punggung peradaban. Tanpanya, kecerdasan justru menjadi berbahaya.)

Sementara itu, Dr. Viktor Frankl (Austria), neurolog dan filsuf kemanusiaan, menyatakan bahwa di antara rangsangan dan respons selalu ada ruang: ruang itulah tempat manusia memilih martabatnya.

Perspektif Nasional: Akhlak sebagai Pilar Ketahanan Sosial

Di Indonesia, Prof. Dr. Azyumardi Azra (almarhum) semasa hidupnya kerap menegaskan bahwa krisis bangsa bukan semata ekonomi atau politik, melainkan krisis akhlak publik.

Senada dengan itu, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, cendekiawan Muslim Indonesia, menegaskan bahwa amarah yang tak terdidik melahirkan lingkaran dendam, sementara ketenangan hati melahirkan keadilan sosial.

“Bangsa besar bukan bangsa yang bebas konflik, tetapi bangsa yang mampu menyelesaikan konflik dengan akhlak.”

Dalam konteks keluarga—sel paling dasar peradaban—amarah orang tua yang tak terkendali terbukti secara psikologis melahirkan trauma lintas generasi. Anak-anak belajar bukan dari nasihat, tetapi dari teladan emosi.

Sastra Profetik: Ketika Doa Menjadi Gerakan Moral
Doa ini hidup dalam napas Sastra Profetik: menyatukan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial.
Ia mengajarkan bahwa menahan marah bukan tanda kelemahan, melainkan puncak kekuatan. Bahwa memaafkan bukan kalah, melainkan menang atas diri sendiri. Bahwa akhlak lebih tinggi nilainya daripada argumen paling tajam.
Dalam Al-Qur’an ditegaskan:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali ‘Imran: 134)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Doa Menuju Tanggung Jawab Peradaban

Ketika seseorang memohon ketenangan hati, sejatinya ia sedang mengambil tanggung jawab global: mencegah kekerasan dari sumber paling awal—jiwa manusia.

Karena setiap perang besar selalu diawali oleh amarah kecil yang dibiarkan tumbuh.

Dan setiap kedamaian dunia selalu dimulai dari satu hati yang memilih tenang.

✦ Catatan Editorial Redaksi UngkapKriminal.com

(Sastra Intelektual Profetik)

Di UngkapKriminal.com, kami meyakini bahwa jurnalisme bukan hanya alat informasi, tetapi instrumen penyucian nurani publik. Doa tentang ketenangan hati ini kami tempatkan sebagai Breaking Headline bukan karena sensasionalitasnya, melainkan karena urgensinya bagi masa depan manusia.

Dalam dunia yang dipenuhi algoritma kemarahan, kami memilih algoritma kasih.

Dalam era adu kuasa, kami menghidupkan adu akhlak.

Sastra Profetik adalah jihad kalam: menyuarakan kebenaran dengan adab, mengoreksi realitas dengan cinta, dan membela kemanusiaan dengan kecerdasan.

Semoga setiap pembaca tidak hanya memahami tulisan ini, tetapi menjadikannya latihan batin:

menjadi manusia yang tenang saat terguncang, lembut saat disakiti, dan berakhlak saat diuji.
Karena pada akhirnya, revolusi terbesar bukan di jalanan—

melainkan di dalam hati.

Redaksi UngkapKriminal.com
Fakta Bukan Drama.