>>>Yang mencari dengan jujur, selalu sedang didekati kebenaran.
Tidak semua perjalanan dimulai dengan langkah.
Sebagian dimulai dengan kesadaran.
Ada saat dalam hidup manusia ketika ia berhenti sejenak —
bukan karena lelah berjalan,
melainkan karena hatinya ingin memahami arah.
Tulisan ini lahir dari keheningan semacam itu.
Bukan untuk menggurui.
Bukan untuk menghakimi.Melainkan untuk mengajak bercermin.
Karena sebelum kita memperbaiki dunia,
kita perlu menyentuh diri sendiri.
Rantai Kehidupan Ilahi
Segala sesuatu bermula dari Allah.
Bukan sekadar sebagai Pencipta,
melainkan sebagai sumber kehidupan,
makna, dan tujuan.
Allah meniupkan ruh ke dalam diri manusia.
Ruh melahirkan fitrah.
Fitrah membangunkan kesadaran.
Kesadaran menuntun akal.Dan akal akhirnya menentukan tindakan.
Inilah rantai kehidupan:
Allah → Ruh → Fitrah → Kesadaran → Akal → Tindakan
Jika urutan ini terjaga, manusia berjalan lurus.
Jika terbalik, manusia tersesat meski merasa benar.
Banyak orang mengandalkan akal tanpa kesadaran.
Banyak yang bergerak tanpa menyentuh fitrah.
Banyak pula yang bertindak tanpa kembali kepada Allah.Di situlah kekacauan bermula.
Tentang Kesadaran
Kesadaran bukan kecerdasan.
Kesadaran bukan gelar.
Kesadaran bukan suara paling keras.
Kesadaran adalah kemampuan ruh untuk mengenali kebenaran.
Ia hadir ketika manusia jujur pada dirinya sendiri.
Ia muncul ketika ego ditundukkan.
Ia hidup ketika hati bersedia mendengar.
Kesadaran adalah saksi batin yang berkata:
ini benar, ini salah —
bahkan sebelum hukum bicara.
Tanpa kesadaran, ilmu menjadi dingin.
Tanpa kesadaran, kekuasaan menjadi rakus.Tanpa kesadaran, demokrasi berubah menjadi arena.
Realitas Zaman
Kita hidup di zaman ketika informasi berlimpah,namun kebijaksanaan langka.
Ketika opini berseliweran,
namun refleksi jarang dilakukan.
Manusia sibuk memenangkan argumen,
tetapi lupa memenangkan nurani.
Padahal pemimpin tidak jatuh dari langit.
Ia lahir dari pilihan rakyat.Dan pilihan rakyat adalah cermin kualitas kesadaran kolektif.
Jika akal sehat ditukar dengan fanatisme,
jika nurani dikalahkan oleh kepentingan sesaat,
maka demokrasi kehilangan maknanya —berubah dari amanah menjadi arena.
Ini bukan makian personal.
Ini kritik sosial.
Ini teguran peradaban.Freedom of Opinion & Expression sebagai Amanah
Kebebasan berpendapat bukan kebebasan tanpa adab.
Ia adalah hak untuk bertanya.
Hak untuk mengkritik.
Hak untuk mengingatkan.Namun setiap hak membawa tanggung jawab.
Berbicara harus jujur.
Mengkritik harus berimbang.Mengingatkan harus beradab.
Karena mencintai negeri bukan berarti diam.
Mencintai bangsa justru berarti berani jujur.
Landasan Profetik
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)Maknanya jelas: perubahan sosial selalu diawali perubahan batin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
(HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
Ini bukan ajakan membenci,melainkan panggilan keberanian moral.
Jihad Kalam: Dari Kesadaran Menuju Tindakan
Jihad kalam bukan tentang siapa paling lantang.
Ia tentang siapa paling jujur.
Ia bukan tentang menjatuhkan,
melainkan membangunkan.
Ia bukan tentang menang debat,
melainkan menyalakan nurani.
Ketika kesadaran hidup, akal bekerja dengan jernih.
Ketika akal jernih, tindakan menjadi bermakna.
Dan ketika tindakan bermakna, peradaban bergerak.
—————————————————————–*
Doa Redaksi
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui isi hati,
Jernihkan pikiran kami, luruskan niat kami,
dan bersihkan hati kami dari kesombongan.
Jadikan setiap kata yang kami tulis sebagai cahaya,
setiap kritik sebagai rahmat,
setiap ikhtiar sebagai amal jariyah.
Jika kami berdiri untuk keadilan — lindungilah kami.
Jika kami bersuara demi kebenaran — kuatkanlah kami.
Jika kami lelah di jalan nurani — hiburlah hati kami.
Sertakan kami dalam barisan orang-orang yang jujur,dan pertemukan kami kelak bersama Rasulullah ﷺ
dalam keadaan membawa amanah kata yang tidak kami khianati.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Tauhid & Jihad Kalam
Yang mencari dengan jujur, selalu sedang didekati kebenaran.
Karena kebenaran tidak berteriak.
Ia menunggu hati yang siap mendengar.
Editorial Penutup Redaksi (Tauhid)
Redaksi UngkapKriminal.com meyakini bahwa kebenaran tidak lahir dari keramaian,
melainkan dari hati yang jujur kepada Yang Maha Esa.
Tulisan ini bukan untuk memenangkan perdebatan,
tetapi untuk menghidupkan kesadaran.
Kami percaya, Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan,
melainkan keberanian untuk jujur, adil, dan bertanggung jawab
di hadapan Allah dan sesama manusia.
Jika satu hati tersentuh,
jika satu nurani terbangun,
maka jihad kalam ini telah menemukan maknanya.
Semoga Allah meridhai setiap niat baik,
dan menuntun kita semua kembali kepada fitrah.
UngkapKriminal.com
Sastra Profetik Investigatif — Suara Nurani di Tengah Zaman



More Stories
QUDRAT- IRADAT
“Dan Dia Bersama Kamu di Mana Saja Kamu Berada”