Januari 27, 2026

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

Keterangan Foto: Di persimpangan Qudrat Ilahi dan Iradat manusia, pena menjadi saksi zaman. Bukan kamera yang berbicara, melainkan nurani yang menulis—tentang kekuasaan sebagai amanah, kritik sebagai ibadah, dan kebenaran sebagai jalan jihad kalam. Dalam sunyi sejarah, setiap ambisi akan diuji, dan setiap kezaliman akan dimintai pertanggungjawaban. UngkapKriminal.com | Breaking Headline News – Sastra Profetik Investigative

Ketika Takdir Ilahi Bertemu Ambisi Manusia

UngkapKriminal.com | Breaking Headline News – Sastra Profetik Investigative

FAKTA BUKAN DRAMA

INDONESIA —————————————————————————————————————
Ada peristiwa yang tidak tercatat di kalender politik.

Ada keputusan yang tidak lahir dari ruang rapat kekuasaan.

Ia terjadi jauh lebih ke ruang terdalam—di persimpangan antara Qudrat dan Iradat.

Qudrat adalah ketetapan Allah.
Iradat adalah kehendak manusia.

Dan di sanalah sejarah sering tergelincir.

Di negeri yang gemar mengutip angka namun lupa makna, kita menyaksikan parade ambisi berjalan di atas karpet retorika.

Jabatan dipuja seperti mahkota suci. Kekuasaan dipeluk seperti jimat keselamatan. Narasi dibangun sedemikian rupa, seolah manusia mampu menegosiasikan langit.

Padahal Al-Qur’an telah lebih dahulu mengingatkan:
“Katakanlah: Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.”
(QS. Ali ‘Imran: 26)

Ayat ini bukan sekadar bacaan. Ia adalah dekrit kosmik.

Namun dalam praktik bernegara, kita kerap menyaksikan ironi: kehendak pribadi disulap menjadi kehendak publik. Kepentingan segelintir elite dipresentasikan sebagai aspirasi rakyat. Dan kritik, perlahan, diperlakukan seperti dosa sosial.

Di sinilah sastra satire menemukan panggungnya.
Karena ketika fakta dibungkam, metafora berbicara.
Ketika data disembunyikan, puisi menyingkap.
Ketika hukum dipelintir, nurani menjerit.

Antara Kekuasaan dan Pertanggungjawaban

Pakar etika publik Prof. Michael Sandel (Harvard University) pernah menegaskan >bahwa krisis demokrasi modern bukan semata kegagalan sistem, melainkan kemiskinan moral para pengelolanya. Kekuasaan tanpa kesadaran transendental akan selalu tergelincir menjadi dominasi.

Sementara itu, filsuf Jürgen Habermas mengingatkan bahwa ruang publik hanya sehat bila kritik dilindungi, bukan diburu.
Di Indonesia, prinsip tersebut sejatinya telah ditegaskan dalam Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 tentang kebebasan menyampaikan pendapat, serta Pasal 19 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang telah diratifikasi negara.
Artinya jelas: kritik adalah hak.
Transparansi adalah kewajiban.
Dan kekuasaan adalah amanah, bukan warisan.

Namun realitas sering berkata lain.

Investigasi UngkapKriminal.com menemukan pola berulang dalam berbagai isu nasional:

ketika pertanyaan publik menguat, jawaban resmi justru menipis. Ketika klarifikasi diminta, yang hadir malah senyap. Seolah waktu dapat menghapus jejak, dan kelelahan publik bisa dibeli dengan diam.

Padahal Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan keras:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini bukan slogan. Ini adalah hukum akhirat.

Satire Profetik:

ketika Pena Menjadi Saksi
Tulisan ini bukan tuduhan.
Bukan vonis.
Dan bukan pula propaganda.
Tulisan ini adalah saksi zaman.

Kami berdiri di atas asas praduga tak bersalah. Kami tidak memegang palu hakim. Namun kami memegang pena nurani.


Sastra profetik tidak bertugas >menyenangkan penguasa.
Ia bertugas menyelamatkan akal sehat publik.

Ia hadir sebagai jihad kalam—perlawanan terhadap kebohongan yang dilembagakan.


Dalam perspektif hukum nasional, setiap dugaan penyimpangan tetap harus diuji melalui mekanisme yang sah sebagaimana diatur dalam KUHAP, baik versi lama maupun pembaruan, dengan menjunjung tinggi due process of law dan hak asasi setiap warga negara.
Tetapi dalam perspektif langit, satu kebenaran tetap berdiri:

tidak ada kekuasaan yang abadi, dan tidak ada kebohongan yang selamanya tersembunyi.

Pamungkas Investigative
Qudrat tidak pernah salah alamat.
Iradat manusia sering salah arah.
Sejarah mengajarkan: kerajaan runtuh bukan karena musuh di luar, tetapi karena busuk di dalam. Peradaban roboh bukan karena kritik, melainkan karena anti-kritik.
Jika hari ini ada yang merasa kebal, esok bisa jadi rapuh.
Jika hari ini ada yang tertawa di singgasana, esok bisa menangis di lorong pengadilan sejarah.
Allah tidak pernah kehilangan kendali.

Manusialah yang sering kehilangan kesadaran.

✦ Catatan Redaksi Presisi Intelektual

Artikel ini disusun sebagai karya sastra jurnalistik profetik investigatif yang menggabungkan fakta normatif, refleksi etika, dan kritik sosial.

UngkapKriminal.com menegaskan,: >komitmen pada jurnalisme berimbang, asas praduga tak bersalah, serta penghormatan penuh terhadap proses hukum yang sah. Setiap pihak yang disebut secara implisit tetap memiliki hak jawab dan klarifikasi sesuai prinsip jurnalistik universal.


✦ Editorial Redaksi

Redaksi UngkapKriminal.com >berpandangan bahwa bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan keberanian moral. Demokrasi tidak akan tumbuh di tanah ketakutan. Negara hukum tidak akan tegak bila kritik dianggap ancaman. Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan—eksekutif, legislatif, yudikatif, aparat, dan masyarakat sipil—untuk kembali pada ruh konstitusi: kekuasaan adalah amanah, bukan alat balas dendam.

✦ Penutup Tegas Redaksi – Jihad Kalam Ilahi
Akhirnya, kami kembalikan semua kepada Yang Maha Mengatur.

“Dan katakanlah: Kebenaran telah datang, dan yang batil pasti lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”

(QS. Al-Isra: 81)


Serta sabda Rasulullah ﷺ:
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”

(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Inilah posisi kami.
Bukan di kursi kekuasaan.
Melainkan di lorong kebenaran.
Dengan pena sebagai saksi.
Dengan nurani sebagai kompas.

Dengan jihad kalam sebagai jalan.

Qudrat milik Allah.

Iradat manusia akan selalu diuji.

— Redaksi UngkapKriminal.com
Breaking Headline News | Sastra Profetik Investigative