Mandau, Bengkalis — 29 Desember 2025
Di penghujung tahun 2025, Kecamatan Mandau tidak menutup kalender dengan seremoni kosong, melainkan dengan kerja nyata yang bermakna: membersihkan bumi sebagai wujud ibadah sosial.
———————-
Dalam rangka manifestasi kepedulian terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan, Pemerintah Kecamatan Mandau, sejalan dengan program unggulan Bupati Bengkalis, menggerakkan sebuah aksi kolektif lintas elemen.
———————–
Camat Mandau beserta seluruh jajaran aparatur, bersama para stakeholder terkait, turun langsung ke lapangan melaksanakan gotong royong massal di berbagai titik wilayah kecamatan.
——————–
Bukan sekadar kegiatan rutin, aksi ini adalah bahasa moral pemerintahan—bahwa kekuasaan sejati bukan berada di balik meja, melainkan hadir di tengah rakyat.
———–
Sejak pagi hari, barisan aparatur sipil negara, perangkat kelurahan, unsur TNI–Polri, tokoh masyarakat, hingga warga setempat menyatu dalam satu irama kerja.
———
Parit dibersihkan, sampah diangkut, semak dirapikan, dan ruang publik dipulihkan. Namun lebih dari itu, yang sedang dibangun adalah kesadaran kolektif: bahwa kebersihan adalah fondasi peradaban.
——————————-
Dalam kacamata sastra profetik, peristiwa ini bukan sekadar gotong royong fisik.
>Ia adalah simbol kesadaran spiritual modern—bahwa menjaga lingkungan adalah amanah, dan merawat ruang hidup adalah bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
——————
Camat Mandau menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari arahan Bupati Bengkalis agar seluruh kecamatan aktif membangun budaya bersih dan sehat secara berkelanjutan.
>“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa kebersihan bukan tugas pemerintah semata, tetapi kewajiban bersama. Mandau harus menjadi contoh bahwa kolaborasi dapat melahirkan perubahan,” ujarnya di sela kegiatan.
————
Pendekatan kolaboratif ini mencerminkan paradigma kepemimpinan kontemporer: partisipatif, membumi, dan berorientasi keberlanjutan.
————–
Ketika negara hadir bersama rakyat dalam kerja nyata, maka kepercayaan publik tumbuh bukan melalui retorika, tetapi melalui teladan.
—————
Secara intelektual, aksi ini juga sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada aspek kesehatan lingkungan, kota dan permukiman berkelanjutan, serta penguatan komunitas lokal.
————-
Di tingkat global, praktik semacam ini dipandang sebagai bentuk grassroots governance—pemerintahan yang bertumpu pada partisipasi warga.
———
Namun di Mandau, nilai itu menemukan bentuk lokalnya: gotong royong.
Di tengah krisis ekologis dunia dan meningkatnya individualisme urban, Mandau memilih jalan Bermartabat : membersihkan selokan, memungut sampah, dan menata ruang bersama. Sebuah pesan sederhana, namun kuat—>bahwa perubahan besar selalu bermula dari tindakan kecil yang dilakukan bersama.
—————-
Catatan Redaksi
>Redaksi memandang kegiatan ini sebagai praktik kepemimpinan sosial yang patut diapresiasi dan direplikasi.
———
Di saat banyak daerah sibuk membangun citra, Mandau membangun kesadaran.
—————-
Ini bukan sekadar agenda kebersihan, melainkan pendidikan publik tentang tanggung jawab kolektif.
——————
Penutup Profetik
Allah SWT berfirman:
>”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Maknanya: kebersihan lahiriah adalah pintu kebersihan batin, dan kerja merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah sosial.
———————-
Dan Rasulullah SAW bersabda:
>“Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
(HR. Muslim)
Maka di Mandau, iman tidak hanya diucapkan—ia diwujudkan dalam sapu, cangkul, dan kebersamaan.
—————————————————————–******************************************
FAKTA BUKAN DRAMA :
Karena sesungguhnya, membangun daerah bukan hanya soal anggaran dan regulasi, tetapi tentang menyatukan hati, menggerakkan tangan, dan menjaga bumi sebagai titipan Ilahi.
———–
********
UngkapKriminal.com | Breaking News Daerah — Sastra Profetik Intelektual



More Stories