Februari 28, 2026

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

“Ketika Jalan Pertanian Disulap Jadi Arena Lari Ramadhan — Strategi Humanis atau Sekadar Seremonial?

Keterangan Foto: Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar menyampaikan arahan sebelum dimulainya kegiatan balap lari malam Ramadhan di Jalan Pertanian, Kabupaten Bengkalis, akhir Februari 2026. Kegiatan yang digagas Polres Bengkalis ini diklaim sebagai langkah preventif untuk menekan potensi balap liar dengan pendekatan humanis berbasis community policing. Aparat tampak melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas guna memastikan acara berjalan tertib dan kondusif.

Polres Bengkalis kembali menjadi sorotan publik setelah menginisiasi kegiatan balap lari malam Ramadhan di kawasan Jalan Pertanian, Kabupaten Bengkalis.

Langkah ini disebut sebagai strategi preventif untuk menekan maraknya balap liar yang kerap muncul selepas tarawih hingga menjelang sahur.

Namun pertanyaannya: apakah ini solusi presisi berbasis data, atau sekadar panggung simbolik musiman?

UngkapKriminal.com menelusuri lebih dalam.

Pada malam penghujung Februari 2026, ruas Jalan Pertanian yang biasanya menjadi titik rawan balap liar, berubah fungsi menjadi arena balap lari jarak pendek.
Puluhan remaja mendaftar sebagai peserta.

Aparat kepolisian mengatur lalu lintas, mengamankan lokasi, dan memastikan perlombaan berjalan tertib.

Secara kasat mata, suasana kondusif. Tidak ada knalpot bising.
Tidak ada aksi kebut-kebutan.

Yang terdengar hanya sorak dukungan dan langkah kaki beradu cepat.

Namun dalam perspektif investigatif, perubahan fungsi ruang publik ini menyimpan dimensi sosial yang lebih kompleks.


Menurut penjelasan resmi, kegiatan ini merupakan langkah preventif untuk mencegah balap liar selama Ramadhan.

Data informal yang dihimpun redaksi menunjukkan bahwa Jalan Pertanian memang kerap menjadi titik kumpul remaja pada malam hari.

Dalam pendekatan kriminologi modern, metode ini dikenal sebagai situational crime prevention — mengalihkan potensi perilaku menyimpang ke aktivitas yang lebih aman dan terkontrol.

Model serupa pernah diterapkan di beberapa negara, termasuk program sport-based intervention di kota-kota besar yang bekerja sama dengan komunitas pemuda dan aparat keamanan.

Namun efektivitasnya sangat bergantung pada kesinambungan program, bukan sekadar momentum seremonial.


Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar, menegaskan bahwa ruang kompetisi sehat perlu diberikan kepada generasi muda agar energi mereka tersalurkan positif.

Pendekatan ini mencerminkan pola community policing — strategi yang secara global dipraktikkan oleh institusi kepolisian modern, termasuk oleh New York Police Department dalam program Youth Engagement mereka.

Namun ada perbedaan mendasar:

Di banyak negara, program preventif berbasis olahraga didukung oleh riset jangka panjang, indikator keberhasilan terukur, serta kolaborasi dengan sekolah, psikolog, dan komunitas sipil.

Apakah model di Bengkalis memiliki desain kebijakan serupa?

Ataukah masih bersifat spontan dan reaktif?


Mengapa Jalan Pertanian dan Mengapa Ramadhan?

Ramadhan adalah momentum spiritual. Aktivitas malam meningkat signifikan. Mobilitas warga bertambah. Dalam situasi seperti ini, potensi gangguan ketertiban memang cenderung naik.
Memilih lokasi yang selama ini dikenal rawan adalah langkah taktis. Namun pertanyaan kritisnya:

Apakah balap liar di titik lain juga terpetakan?

Adakah data komparatif sebelum dan sesudah kegiatan?

Apakah angka pelanggaran benar-benar turun?


Investigasi lanjutan diperlukan untuk memastikan bahwa kebijakan ini berbasis evidence, bukan sekadar asumsi.


ANALISIS INTELEKTUAL:
Antara Humanisme dan Manajemen Persepsi

Pendekatan ini patut diapresiasi sebagai inovasi non-represif.

Di tengah kritik terhadap tindakan penindakan keras, model dialogis seperti ini menawarkan wajah kepolisian yang lebih humanis.

Namun dalam perspektif inteligensia sosial, terdapat tiga indikator evaluasi:

Keberlanjutan Program – Apakah akan rutin atau hanya Ramadhan?

Pengukuran Dampak – Apakah ada data kuantitatif?

Kolaborasi Multipihak – Apakah melibatkan sekolah, tokoh agama, dan komunitas?

Tanpa tiga pilar ini, kegiatan berisiko menjadi “event”, bukan “kebijakan”.


INVESTIGATIVE NOTE:
Fakta Bukan Drama
UngkapKriminal.com menegaskan:

Tidak ada indikasi negatif dalam kegiatan ini.

Namun tugas pers bukan hanya mengabarkan, melainkan menguji efektivitas kebijakan publik.

Preventif harus berbasis presisi.

Humanis harus berbasis sistem.

Simbolik harus berbasis substansi.

Jika benar berdampak menurunkan balap liar, maka ini patut menjadi model nasional.
Jika tidak, maka perlu evaluasi terbuka.


CATATAN INTELEKTUAL REDAKSI

Kebijakan keamanan modern menuntut keseimbangan antara penegakan hukum dan rekayasa sosial. Ramadhan bukan sekadar momentum spiritual, tetapi juga momentum manajemen risiko sosial.
Masyarakat tidak membutuhkan drama citra.

Masyarakat membutuhkan data, konsistensi, dan keberanian evaluasi.
Karena keamanan bukan tentang tampil kuat —
melainkan tentang membangun kepercayaan.


PENUTUP PROFETIK
Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”
(QS. An-Nahl: 90)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Jika balap lari ini benar membawa manfaat dan menekan potensi bahaya,
maka ia adalah kebaikan sosial.

Namun jika hanya menjadi panggung tanpa perubahan nyata, maka evaluasi adalah bagian dari keadilan.


Karena di negeri ini —
kita tidak butuh drama.
Kita butuh fakta.