Januari 29, 2026

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

GEMABRISAHABAT Menyapa Gajah Sakti: Ketika Negara Hadir Melalui Sayur, Ikan, dan Doa Sosial

Keterangan Foto: Depan Kantor Kelurahan Gajah Sakti, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau — jajaran ibu-ibu dan aparatur kelurahan berpose bersama dalam kegiatan GEMABRISAHABAT 2025, Gerakan Mandau Berbagi Ikan, Sayur, Buah dan Obat, sebagai wujud kepedulian sosial Pemerintah Kabupaten Bengkalis kepada masyarakat.

Mandau, Bengkalis | Rabu, 29 Januari 2026
Di pelataran Kantor Kelurahan Gajah Sakti, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, sebuah peristiwa sosial berlangsung dalam syarat yang bermakna. Bukan seremoni kekuasaan, bukan pula parade pidato, melainkan barisan keranjang sembako yang berjejer rapi—menjadi saksi bahwa negara, pada pagi itu, memilih hadir melalui jalan empati.

Program unggulan Pemerintah Kabupaten Bengkalis bertajuk GEMA BERI SAHABAT (Gerakan Mandau Berbagi Ikan, Sayur, Buah dan Obat) kembali digelar pada tahun 2025.

Sebuah gerakan sosial yang memadukan kebijakan publik dengan etika kemanusiaan: membagikan paket bantuan pangan secara gratis kepada warga yang membutuhkan, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil.

Paket bantuan yang disalurkan bukan sekadar simbol. Di dalamnya tersusun kebutuhan pokok: sayur-mayur segar, buah-buahan, beras, gula, ayam, hingga telur—dirangkai dalam sistem paket sesuai ketersediaan.

Namun lebih dari itu, ia adalah pesan moral bahwa pembangunan sejati dimulai dari pemenuhan gizi rakyat.
Negara, Gizi, dan Martabat Manusia

Dalam perspektif profetik, pangan bukan sekadar komoditas, melainkan hak dasar manusia. Apa yang dilakukan melalui GEMABRISAHABAT sejatinya merupakan manifestasi konkret dari amanat konstitusi.

Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 menegaskan:
“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.”

Sementara

Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh kesejahteraan lahir dan batin, termasuk pelayanan kesehatan dan lingkungan hidup yang baik.

Secara internasional, langkah ini juga sejalan dengan

Universal Declaration of Human Rights (UDHR) Pasal 25, yang menegaskan hak setiap orang atas standar hidup layak, termasuk pangan dan kesehatan.

Dengan demikian, GEMABRISAHABAT bukan sekadar program daerah—ia adalah pengejawantahan tanggung jawab negara dalam perspektif hukum nasional dan hak asasi manusia global.

Dari Mandau untuk Indonesia
Pelaksanaan kegiatan di Kelurahan Gajah Sakti memperlihatkan wajah lain birokrasi: aparatur yang turun langsung, relawan yang tersenyum, serta warga yang menerima dengan mata berbinar. Para ibu, khususnya ibu hamil, menjadi prioritas penerima manfaat—sebuah penegasan bahwa masa depan bangsa dimulai dari rahim yang sehat.

Di tengah tantangan ekonomi global dan tekanan inflasi pangan, inisiatif semacam ini menjadi oase sosial.

Mandau memberi pesan ke Indonesia: bahwa kebijakan publik tidak selalu harus lahir dari ruang rapat ber-AC, tetapi bisa tumbuh dari pelataran kantor kelurahan, dari sentuhan tangan ke tangan.

Sastra Profetik: Ketika Sayur Menjadi Zikir Sosial
Di Gajah Sakti, sayur berubah menjadi zikir. Telur menjadi doa. Beras menjelma ikhtiar. Dan ikan menjadi simbol keberlanjutan hidup.
Inilah sastra profetik kebijakan publik: ketika kekuasaan tidak meninggikan diri, melainkan menunduk untuk melayani.
Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Rasulullah SAW pun bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Catatan Intelektual Presisi Redaksi
GEMABRISAHABAT adalah contoh praksis kebijakan berbasis empati. Namun kesinambungan, transparansi distribusi, serta evaluasi dampak gizi jangka panjang tetap menjadi pekerjaan rumah kolektif.

Program baik harus dijaga dari sekadar seremonial—ia harus bertumbuh menjadi sistem.

Redaksi mengapresiasi >ikhtiar Pemerintah Kabupaten Bengkalis bersama Kecamatan Mandau dan Kelurahan Gajah Sakti yang menghadirkan negara melalui sentuhan kemanusiaan. GEMABRISAHABAT bukan sekadar distribusi pangan, melainkan pesan empati bahwa rakyat tidak berjalan sendiri. Semoga langkah baik ini terus berlanjut, bertumbuh menjadi sistem, dan menguatkan harapan bagi generasi masa depan.


Mandau telah memulai. Kini publik menanti konsistensi.