Juni 16, 2026

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

16 JUNI DAN PIDATO TERAKHIR BUNG KARNO: JAS MERAH

**Keterangan Foto:** Ilustrasi visual refleksi kebangsaan tentang pidato terakhir Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, yang dikenal dengan pesan **JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah)**. Visual menampilkan simbol sejarah, nasionalisme, dan kesadaran kebangsaan melalui figur Bung Karno, bendera Merah Putih, serta logo identitas redaksi **FAKTA BUKAN DRAMA** sebagai representasi komitmen jurnalistik dalam menjaga memori kolektif bangsa. **Foto/Visual: Ilustrasi Digital UngkapKriminal.com** **© Hak Cipta Karya Jurnalistik dan Visual Dilindungi Undang-Undang Nasional dan Internasional.**

Oleh: Junedy Nasution
Editor: Redaksi UngkapKriminal.com


Tagline Redaksi

Mengungkap Fakta, Menjaga Nurani, Merawat Kesadaran Publik.


Mengingat Sejarah, Menjaga Arah Bangsa

Secara historis, 16 Juni bukanlah tanggal ketika pidato JAS MERAH disampaikan. Namun, tanggal ini dapat menjadi momentum refleksi kebangsaan untuk kembali mengingat salah satu pesan paling penting yang pernah diwariskan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, mengenai arti sejarah bagi kehidupan sebuah bangsa.

Pidato yang kemudian dikenal dengan sebutan JAS MERAH—singkatan dari Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah—disampaikan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1966, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-21 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pidato tersebut dikenang sebagai pidato kenegaraan terakhir Bung Karno dalam peringatan kemerdekaan sebagai Presiden Republik Indonesia.

Sejak saat itu, JAS MERAH tidak hanya menjadi ungkapan yang melekat dalam memori kolektif bangsa, tetapi juga menjadi salah satu pesan kebangsaan yang terus hidup dan relevan lintas generasi.

Makna JAS MERAH

Dalam pidatonya, Bung Karno menegaskan pentingnya sejarah sebagai fondasi kehidupan bangsa. Dari pidato itulah lahir pesan yang kemudian dikenal luas:

«”Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.”»

Pesan tersebut lahir dari keyakinan bahwa sebuah bangsa tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarahnya sendiri. Sejarah bukan sekadar kumpulan peristiwa masa lalu, melainkan sumber identitas, pembelajaran, dan arah bagi masa depan.

Bung Karno mengingatkan bahwa bangsa yang melupakan sejarah akan kehilangan orientasi, kehilangan jati diri, dan rentan terpecah oleh kepentingan sesaat. Sebaliknya, bangsa yang memahami sejarah akan mampu menjaga kesinambungan cita-cita perjuangan serta memperkuat persatuan nasional.

Latar Belakang Politik Tahun 1966

Pidato JAS MERAH lahir pada salah satu periode paling krusial dalam sejarah Indonesia.

Saat itu bangsa Indonesia sedang menghadapi pergolakan politik yang besar:

  • Pasca Peristiwa Gerakan 30 September 1965.
  • Setelah terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).
  • Ketika terjadi pergeseran pusat kekuasaan politik dari Bung Karno kepada Soeharto.
  • Saat kehidupan nasional diwarnai polarisasi politik dan pertarungan ideologi yang tajam.

Dalam konteks tersebut, JAS MERAH bukan sekadar seruan untuk mengenang masa lalu. Pesan itu merupakan peringatan agar bangsa Indonesia tidak memutus mata rantai sejarah perjuangannya sendiri di tengah perubahan politik yang sedang berlangsung.

Bung Karno memahami bahwa ketika suatu bangsa kehilangan ingatan kolektifnya, maka bangsa tersebut berisiko kehilangan arah perjalanan sejarahnya.

Relevansi untuk Indonesia Hari Ini

Lebih dari setengah abad setelah pidato itu disampaikan, pesan JAS MERAH tetap memiliki makna yang mendalam.

Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan tahun 1966. Namun substansi peringatannya tetap sama.

Di era digital, masyarakat dihadapkan pada arus informasi yang sangat cepat, disinformasi yang masif, polarisasi sosial-politik, serta perubahan sosial yang berlangsung tanpa jeda. Dalam situasi seperti itu, pemahaman terhadap sejarah menjadi semakin penting sebagai alat untuk menjaga kewarasan publik dan identitas kebangsaan.

«Bangsa yang melupakan sejarah akan mudah kehilangan identitasnya.
Bangsa yang memahami sejarah akan memiliki kompas untuk menentukan masa depannya.»

Sejarah memberikan kemampuan untuk memahami mengapa suatu bangsa berdiri, bagaimana perjuangan kemerdekaan diraih, serta nilai-nilai apa yang harus dijaga agar cita-cita nasional tetap hidup.

Karena itu, JAS MERAH bukanlah ajakan untuk hidup dalam romantisme masa lalu, melainkan ajakan untuk memahami masa lalu agar tidak tersesat dalam menentukan arah masa depan.

Perspektif Konstitusional

Dalam perspektif konstitusi, sejarah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara.

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hasil dari perjalanan sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan demi mewujudkan kemerdekaan, persatuan, keadilan, dan kedaulatan rakyat.

Artinya, memahami sejarah bukan sekadar kebutuhan akademik, melainkan bagian dari upaya menjaga kesadaran kebangsaan dan memahami tujuan bernegara sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa.

Ketika sejarah dipahami secara utuh, bangsa memiliki pijakan moral dan intelektual dalam menghadapi tantangan zaman.


  • ## CATATAN REDAKSI

JAS MERAH bukan sekadar pesan untuk mengenang masa lalu, melainkan panggilan intelektual untuk memahami akar perjalanan bangsa. Sejarah adalah memori kolektif yang membentuk identitas nasional, merekam pengorbanan para pendiri bangsa, serta menjadi sumber pelajaran bagi setiap generasi. Tidak ada bangsa besar yang lahir dari ingatan yang pendek, sebab masa depan yang kokoh hanya dapat dibangun di atas pemahaman yang jujur terhadap pengalaman masa lalu.

Dalam perspektif kebangsaan dan konstitusi, sejarah bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan fondasi moral yang menjaga arah perjalanan negara. Semangat yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 lahir dari proses sejarah panjang perjuangan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, keadilan, dan kedaulatan. Karena itu, meninggalkan sejarah berarti berisiko kehilangan pijakan dalam memahami tujuan bernegara.

Di tengah era disinformasi, polarisasi politik, percepatan teknologi, dan perubahan sosial yang begitu cepat, pesan Bung Karno tetap menemukan relevansinya. Bangsa yang melupakan sejarah akan mudah kehilangan identitas, terjebak dalam konflik kepentingan sesaat, dan sulit membaca tantangan masa depan. Sebaliknya, bangsa yang memahami sejarah akan memiliki kompas moral, intelektual, dan kebangsaan untuk menentukan arah perjalanannya.

Oleh karena itu, JAS MERAH bukan hanya slogan perjuangan yang lahir pada momentum politik tahun 1966, melainkan amanat peradaban yang melampaui ruang dan waktu. Pesan tersebut mengingatkan bahwa kemerdekaan, persatuan, dan kedaulatan bangsa bukanlah warisan yang dapat dinikmati tanpa tanggung jawab, melainkan amanah sejarah yang harus dijaga, dipahami, dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu menciptakan sejarah, tetapi juga bangsa yang mampu menghormati, memahami, dan mengambil pelajaran dari sejarahnya sendiri.

Pada akhirnya, sejarah bukanlah ruang untuk memuja masa lalu secara berlebihan, melainkan ruang belajar bagi sebuah bangsa agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kemajuan tidak pernah lahir dari bangsa yang memutus hubungan dengan akar sejarahnya, tetapi dari bangsa yang mampu berdialog secara kritis dengan pengalaman masa lalunya. Dalam pengertian itulah JAS MERAH tetap relevan: bukan sebagai slogan politik, melainkan sebagai etika kebangsaan yang menjaga kesinambungan antara perjuangan kemerdekaan, kehidupan demokrasi, dan cita-cita Indonesia di masa depan.

«”Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.”
— Bung Karno»

Penutup

JAS MERAH pada hakikatnya bukan sekadar pesan sejarah dari masa lalu, melainkan peringatan yang terus hidup dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejarah mengajarkan bahwa kemerdekaan, persatuan, dan kedaulatan tidak hadir dengan sendirinya, tetapi lahir melalui perjuangan, pengorbanan, serta kesadaran kolektif seluruh anak bangsa.

Karena itu, memahami sejarah berarti menjaga arah perjalanan bangsa agar tetap berpijak pada nilai-nilai yang melahirkan Republik ini. Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, pesan JAS MERAH tetap relevan sebagai kompas moral dan intelektual untuk memastikan bahwa Indonesia tidak kehilangan jati dirinya dalam menghadapi masa depan.


Referensi dan Bacaan

  1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
  2. Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno, 17 Agustus 1966 (JAS MERAH).
  3. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi.
  4. Mohammad Hatta, Untuk Negeriku.
  5. Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia.
  6. Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.

Tentang Penulis

Junedy Nasution adalah jurnalis, penulis editorial, dan pendiri media UngkapKriminal.com. Aktif menulis isu kebangsaan, hukum, demokrasi, tata kelola pemerintahan, kebijakan publik, serta kajian konstitusional dengan pendekatan analitis dan berbasis fakta. Melalui karya-karyanya, ia mendorong penguatan literasi publik, kesadaran kebangsaan, dan budaya kritis dalam kehidupan demokrasi Indonesia.


FAKTA BUKAN DRAMA

Mengungkap Fakta, Menjaga Nurani, Merawat Kesadaran Publik.

UngkapKriminal.com