April 4, 2025

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

SkenarioTeori Konflik Dan Hilirisasi Kebijakan Ideologi Komunis China ?!

Ket Foto , Skenario Teori Konflik Jokowi "Tesa Anti Tesa" Dan Hilirisasi Kebijakan Ideologi Komunis China, Xi Jinping

Surabaya — Di awal-awal tampilnya Jokowi di pentas politik nasional, telah banyak disinyalir sejumlah kalangan bahwa Jokowi ini keturunan Komunis.

“Untuk konfirmasi atas hal ini silahkan di Googling, tersedia banyak rekam jejak digital perihal ini.

” Walaupun tidak ada konfirmasi dari pihak berwenang bahwa benar Jokowi ada keturunan Aktifis Partai Komunis Indonesia (PKI) dan atau Underbow’nya .

Karena itu kita tidak dapat berkata dengan yakin bahwa memang Jokowi itu adalah keturunan PKI.

Namun jika kita amati pembelahan sosial pada pilpres tahun 2019 yang didesain secara naratif dengan menghadirkan istilah “cebong” dan “kampret”, secara teori dapat di baca sebagai “teori konflik” yang dikenal lazim penggunaannya dalam penerapan ideology komunis. 

Kita juga menyaksikan bahwa pihak pendukung Jokowi (Projo), mencitrakan diri mereka sebagai Pancasilais, dan mencitrakan lawan politik Jokowi sebagai radikalisme, ekstrimisme, anti-Pancasila. 

Persis seperti menduplikasi cara PKI dalam membangun propaganda di masa lampau, dengan mencitrakan kelompok Sukarnois sebagai “Progressif revolusioner” di satu sisi, dan menuduh lawan politik mereka, (terutama kalangan NU dan Masyumi) sebagai kelompok yang anti revolusi.

Dalam hal investasi, kita juga menyaksikan hubungan erat antara Rezim Jokowi dengan Komunis China, sebagaimana dulu juga di lakukan oleh Sukarno pada masanya, sehingga desakan pembubaran PKI oleh TNI-AD, Pelajar dan Mahasiswa pasca peristiwa G.30-S/PKI tidak digubris oleh Sukarno.

Singkat cerita, ada paralelisme penerapan ideologi komunis yang nampak pada level hilir, telah dilakukan oleh Jokowi dan para Pendukungnya. 

Tentu saja berbeda secara Teknikal karena faktor media sosial yang digunakan.

Dengan melakukan pencermatan secara mendalam, kami dengan yakin menyebut bahwa Jokowi telah melakukan Hilirisasi kebijakan ideologi Komunis, meskipun masih pada level yang belum sepenuhnya. 

Tentu saja, pihak China (Negara Tiongkok) yang menggandeng erat tangan Jokowi ini, memiliki kepentingan agar program hilirisasi ideologi komunis China di Indonesia terus berlanjut, dan karena itu dapat di pastikan bahwa anasir-anasir kekuatan ekonomi-politik Komunis China bermain dalam Pemilihan Presiden tahun 2024,

Sebagaimana mereka telah melakukannya pada Pilpres 2019 yang lalu, yang sukses mengelabui kita semua karena berhasil memasang dua pasangan Calon Presiden.

Skenario dua pasangan calon presiden yang sukses dilakukan pada pilpres 2019 yang lalu, memang tidak banyak di sadari para aktifis politik, para relawan yang di mobilisasi. Bahkan sedemikian “buta” nya dengan skenario dua pasangan capres itu, pada level relawan kedua kubu saling caci-maki, saling lapor polisi, saling hujat satu sama lain. Yang sesungguhnya semua itu by design melalui apa yang disebut sebagai “teori konflik” dalam narasi “tesa anti tesa”.

(FPRN)