Juni 11, 2026

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

Keterangan Foto: Ilustrasi visual reflektif tentang paradoks manusia modern antara kebutuhan dan keserakahan. Sosok bayangan manusia digambarkan berdiri di antara kemewahan duniawi dan hukum alam, sementara rajawali hitam-emas memegang pena emas serta kitab bertuliskan FAKTA BUKAN DRAMA sebagai simbol keberanian, intelektualitas, integritas jurnalistik, dan pencarian kebenaran. * pesan utama karya sastra profetik "Manusia Mati Demi Harta, Binatang Mati Untuk Makan", bahwa binatang hidup dan mati mengikuti kebutuhan alamiah, sedangkan manusia sering kali terjebak dalam hasrat yang tak pernah mengenal batas kecukupan. "Binatang mati karena kebutuhan hidup, sedangkan manusia sering kali kehilangan hidup karena tidak pernah merasa cukup." Ilustrasi: UngkapKriminal.com Karya Sastra Profetik: Junedy Nasution Β© Hak Cipta Karya Jurnalistik dan Visual Dilindungi Undang-Undang Nasional dan Internasional. :::

| Karya Sastra Profetik: Junedy Nasution |

Manusia mengejar bayang-bayang yang dicetak tangannya sendiri,

binatang menelusuri jejak lapar yang ditulis alam.

Yang satu membangun gudang demi gudang,

yang lain cukup menemukan sepotong kehidupan.

Lalu emas diberi takhta,
angka diberi kehormatan,

dan kecukupan diadili sebagai kegagalan.

Di pasar, di kantor, di istana, di jalanan,
orang-orang berlomba memikul miliknya,

hingga lupa membawa dirinya.

Mereka menambang bumi,
menggadaikan waktu,
menukar nurani dengan lambang kemakmuran,

  • lalu menyebutnya kemajuan.

Sementara itu,

seekor burung jatuh karena mencari biji,

seekor rusa rebah karena mencari rumput.

  • Binatang mati untuk makan.

Manusia kadang mati mengejar sesuatu
yang bahkan tak dapat dimakannya.

Yang satu tunduk pada hukum alam,

yang lain menjadi tawanan ciptaannya sendiri.

  • Maka persoalannya bukan berapa banyak harta yang terkumpul,

melainkan berapa banyak manusia yang tersisa
ketika harta naik menjadi tujuan,
dan kehidupan turun menjadi sekadar alat.


  • Perspektif Profetik
  • Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

  • Makna:
    Al-Qur’an mengingatkan bahwa perlombaan memperbanyak kekayaan, jabatan, dan pengaruh dapat membuat manusia lupa tujuan hidupnya. Ketika akumulasi menjadi orientasi utama, manusia berisiko kehilangan kesadaran akan nilai kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya.
  • Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah emas.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

  • Makna:
    Hasrat manusia tidak selalu berhenti pada kecukupan. Karena itu Islam tidak melarang harta, tetapi memperingatkan agar harta tidak menguasai hati dan mengubah manusia menjadi budak keinginan yang tak berujung.

  • Catatan Intelektual Redaksi
  • Tulisan ini bukan kritik terhadap kerja keras, perdagangan, investasi, atau kemakmuran.
    Yang dikritik adalah ketika harta berubah dari alat menjadi tujuan, ketika angka lebih dihormati daripada integritas, dan ketika manusia mengukur martabat hanya dari kepemilikan.
  • Binatang mencari makan untuk mempertahankan hidup.
    Manusia diberi akal untuk memberi makna pada kehidupan.

Ironisnya, dalam banyak keadaan, akal yang seharusnya membimbing
justru dipakai untuk membenarkan keserakahan.

  • Kemajuan yang sejati bukanlah bertambahnya kekayaan tanpa batas,
    melainkan bertambahnya kebijaksanaan dalam menggunakan kekayaan tersebut demi kemaslahatan sesama.

  • Editorial Sastra
  • Barangkali krisis terbesar zaman ini bukan kekurangan sumber daya,

melainkan kekurangan rasa cukup.

  • Gedung semakin tinggi, tetapi horizon moral semakin rendah.
    Angka pertumbuhan terus diumumkan, sementara nilai kemanusiaan sering kali disembunyikan di catatan kaki.
  • Kita menyaksikan dunia yang mampu menghitung keuntungan hingga digit terakhir,
    tetapi sering gagal menghitung harga sebuah kejujuran.
  • Jika segala sesuatu diukur dengan nilai pasar, maka nurani perlahan kehilangan harga.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa banyak yang berhasil dikumpulkan manusia.

Sejarah akan bertanya

apa yang dilakukan manusia dengan apa yang telah dikumpulkannya.

  • Sebab harta hanyalah alat perjalanan.
    Ia tidak pernah diciptakan untuk menjadi tujuan akhir.
  • Dan ketika manusia menjadikan harta sebagai tujuan hidup,
    sesungguhnya ia sedang berjalan menjauhi dirinya sendiri.

Disclaimer

Karya ini merupakan ekspresi sastra profetik, refleksi filosofis, dan kritik sosial yang bertujuan mendorong perenungan moral, etika, dan kemanusiaan.

Seluruh narasi, metafora, simbol, dan ilustrasi dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyerang, menghakimi, atau merujuk kepada individu, kelompok, lembaga, profesi, maupun pihak tertentu secara spesifik.


Junedy Nasution

Β© Hak Cipta Karya

Jurnalistik dan Visual Dilindungi Undang-Undang Nasional dan Internasional.
Dilarang memperbanyak, menyalin, mendistribusikan, atau menggunakan sebagian maupun seluruh isi tanpa izin tertulis dari pemegang hak cipta. :::