Februari 24, 2026

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

SKENARIO TUHAN: Gerbang Rahmatan Lil ‘Alamin, Ujian Sepuluh Tahun dan Paradoks Sejarah Bangsa

Keterangan Foto: Budayawan dan cendekiawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menyampaikan refleksi kehidupan dalam sebuah forum publik, mengingatkan bahwa realitas tak selalu berjalan sesuai harapan. Visual ini dipublikasikan oleh UngkapKriminal.com dengan identitas Rajawali Emas memegang Pena Emas dan tagline “FAKTA BUKAN DRAMA” sebagai simbol komitmen pada integritas, kebenaran, dan keberanian moral dalam menyuarakan realitas.

Di tengah riuh politik, ekonomi yang menggigil, dan kegelisahan sosial yang kian terasa, sebuah pernyataan menggema dari panggung kebudayaan Nusantara. Sosok budayawan yang dikenal luas melalui forum Maiyah, Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab disapa Cak Nun, menyampaikan refleksi tajam:

“Kita sedang memasuki gerbang rahmatan lil ‘alamin. Tetapi anda harus lebih menderita paling tidak 10 tahun lagi. Nggak apa-apa… Nanti ada yang lebih parah dari Jokowi… Hidup ini tidak sama dengan yang kamu inginkan dan tidak sama dengan yang kamu pikirkan.”


Pernyataan ini bukan sekadar opini spiritual. Ia adalah alarm kultural, refleksi sejarah, dan sekaligus kritik peradaban.

Apa yang Dimaksud “Gerbang Rahmatan Lil ‘Alamin”?

Konsep rahmatan lil ‘alamin bersumber dari Al-Qur’an, Surah Al-Anbiya ayat 107:

“Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘aalamiin.”
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Maknanya universal: rahmat bukan hanya untuk satu golongan, agama, atau bangsa—tetapi untuk seluruh kehidupan.

Menurut Prof. Quraish Shihab, rahmat dalam konteks ini bukan sekadar kelembutan, tetapi sistem kehidupan yang menghadirkan keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan global.

Namun, sejarah membuktikan: setiap transisi menuju rahmat sering didahului turbulensi.

“Lebih Parah dari Jokowi”? Kritik atau Alarm Sejarah?

Nama Joko Widodo disebut dalam refleksi tersebut sebagai simbol fase kepemimpinan yang oleh sebagian masyarakat dianggap penuh tantangan.

Dalam asas praduga tak bersalah dan kerangka demokrasi, setiap kepemimpinan memiliki dinamika, capaian, dan kritik. Namun, narasi “lebih parah” bukan sekadar personal—melainkan metafora tentang siklus sejarah.


Dr. Rocky Gerung dalam berbagai forum akademik sering menekankan bahwa demokrasi tanpa kedewasaan publik bisa melahirkan ekses populisme dan ketidakstabilan.

Sementara ekonom senior Faisal Basri (alm.) pernah mengingatkan bahwa fondasi ekonomi yang rapuh akan terasa dampaknya dalam jangka menengah hingga panjang.

Pertanyaannya:

Apakah ini nubuat politik?

Ataukah peringatan moral agar masyarakat tidak bergantung pada figur, melainkan pada nilai?

Hidup Tidak Sama dengan yang Kamu Inginkan

Secara filosofis, ini adalah kritik terhadap ekspektasi modernitas.

Psikolog sosial Jonathan Haidt menjelaskan dalam risetnya bahwa manusia cenderung menganggap masa depan akan mengikuti desain pikirannya. Ketika realitas berbeda, lahirlah kecemasan kolektif.

Cak Nun seakan mengajak publik memasuki fase kedewasaan spiritual:

Hidup bukan mengikuti keinginan kita.
Tetapi mengikuti kehendak Ilahi dan hukum sebab-akibat sejarah.

Dalam konteks geopolitik global, konflik, krisis pangan, perubahan iklim, dan disrupsi teknologi menunjukkan bahwa dunia memang bergerak di luar kendali ekspektasi individu.


Sepuluh Tahun Penderitaan: Realitas atau Metafora?

Dalam tradisi kenabian, ujian sering mendahului kejayaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Asyaddun naasi balaan al-anbiyaa’, tsumma al-amtsal fal-amtsal.”
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka.” (HR. Tirmidzi)

Maknanya: penderitaan bukan tanda kebinasaan, melainkan proses pemurnian.

Namun dalam konteks kebangsaan, “10 tahun” bisa dibaca sebagai fase konsolidasi sosial-politik menuju stabilitas baru.

Prof. Azyumardi Azra (alm.) pernah menulis bahwa bangsa yang besar lahir dari krisis yang berhasil dikelola menjadi momentum transformasi.

Investigasi Nilai:

Apakah Kita Siap?

Pertanyaan pamungkas dalam refleksi itu berbunyi:

“Mau apa kamu?”

Ini bukan pertanyaan retoris biasa. Ini pertanyaan eksistensial.

Apakah masyarakat siap menghadapi:

Disrupsi ekonomi?

Pergeseran kepemimpinan?

Ujian moral kolektif?

Polarisasi sosial?

Ataukah kita masih berharap hidup berjalan sesuai skenario pribadi?


Perspektif Pakar Hukum dan HAM
Dalam negara demokrasi, kebebasan berekspresi dijamin oleh:

Pasal 28E UUD 1945
Pasal 19 Deklarasi Universal HAM PBB

Namun kebebasan harus diiringi tanggung jawab etika publik.

Ahli hukum tata negara Prof. Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa demokrasi sehat mensyaratkan kritik yang berbasis nilai dan solusi, bukan sekadar provokasi.


Analisis Profetik: Rahmat Tidak Selalu Datang dalam Bentuk Kenyamanan
Paradoks sejarah menunjukkan:

Musa lahir di bawah tirani Fir’aun.

Nabi Muhammad ﷺ membangun peradaban dari tekanan Makkah.

Reformasi Indonesia lahir dari krisis 1998.

Rahmat sering tersembunyi di balik ujian.

Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 216:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.”

Maknanya: manusia terbatas dalam membaca skenario Tuhan.


Catatan Intelektual Presisi Redaksi

Redaksi UngkapKriminal.com memandang pernyataan ini bukan sebagai propaganda politik, melainkan refleksi kebudayaan dan spiritualitas bangsa.

Namun publik harus cerdas membedakan:

Kritik konstruktif

Pesimisme kolektif

Atau sekadar sensasi retoris

Bangsa yang matang tidak alergi terhadap peringatan.

Tetapi juga tidak larut dalam ketakutan.


Penutup Profetik
Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Hadits Nabi ﷺ:

“Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Maknanya jelas:

Tawakal bukan pasrah tanpa usaha.

Rahmat bukan hadiah instan.

Dan masa depan bukan hasil dari keinginan—melainkan kesiapan.


Jika benar kita sedang memasuki gerbang rahmatan lil ‘alamin, maka pertanyaan terbesar bukan siapa pemimpinnya.

Tetapi:

Apakah kita sudah siap menjadi manusia yang layak menerima rahmat itu?


Fakta Bukan Drama.
Sejarah sedang mengetuk pintu.