April 26, 2026

Ungkapkriminal.com

Diandalkan dan ditargetkan

“Ketika Ulama Mendekati Penguasa: Dunia Terbalik dalam Bayang-Bayang Akhir Zaman”

Keterangan Foto: Sosok ulama berdiri di persimpangan dua kekuatan—mimbar kebenaran dan lorong kekuasaan. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan pergulatan antara integritas dan kompromi. Di satu sisi, istana menjulang dengan gemerlap legitimasi; di sisi lain, langit gemilang menanti suara kejujuran yang tak tergadai. Potret ini merekam ironi zaman yang pernah diingatkan oleh Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din—ketika ilmu berhadapan dengan kuasa, dan keberkahan bergantung pada keberanian menjaga jarak. Sebuah simbol “dunia terbalik”: saat sebagian mendekat demi pengaruh, sementara kebenaran justru menunggu untuk diperjuangkan tanpa pamrih.

Oleh:

Tim Investigasi Global – UngkapKriminal.com
DUNIA YANG BERBALIK ARAH

Dalam lanskap sosial-politik modern, satu pertanyaan klasik kembali menggema dengan intensitas yang mengkhawatirkan:

Apakah ulama yang mendekati penguasa, atau justru penguasa yang seharusnya tunduk kepada ulama?

Pertanyaan ini bukan sekadar retorika moral, melainkan sinyal pergeseran peradaban—

yang oleh sebagian pemikir disebut sebagai fenomena “dunia terbalik”, sebuah tanda zaman yang telah diperingatkan jauh sebelumnya dalam khazanah Islam klasik, khususnya dalam karya monumental Ihya Ulum al-Din oleh Abu Hamid al-Ghazali.

INVESTIGASI: ULAMA, KEKUASAAN, DAN DISTORSI MORAL

Dalam kitab tersebut, Al-Ghazali secara tegas mengingatkan:

“Sejahat-jahat ulama adalah yang mendatangi penguasa, dan sebaik-baik penguasa adalah yang mendatangi ulama.”
Pernyataan ini kini menjadi cermin yang retak—memantulkan realitas kontemporer di berbagai negara,
termasuk Indonesia dan dunia Islam secara luas.

Menurut pengamat politik Islam dari

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra (alm), fenomena kedekatan ulama dan kekuasaan dapat bertransformasi menjadi dua sisi mata uang: legitimasi moral atau justru kooptasi kekuasaan.

Sementara itu, pakar filsafat politik dari Harvard University,

Michael Sandel, menilai bahwa ketika moralitas tunduk pada kekuasaan, maka demokrasi berubah menjadi “tirani halus yang dilegitimasi simbol agama.”

FAKTA LAPANGAN: GEJALA “ULAMA ISTANA”

Investigasi tim menemukan kecenderungan meningkatnya figur-figur religius yang:

Aktif mendukung kebijakan kekuasaan tanpa kritik

Menjadi legitimasi simbolik dalam kebijakan kontroversial
Menghindari kritik terhadap ketidakadilan struktural

Fenomena ini oleh pakar sosiologi agama dari Universitas Gadjah Mada, Syafii Maarif (alm), disebut sebagai

“kemunduran etika profetik dalam ruang publik.”

DIMENSI AKHIR ZAMAN: “DUNIA TERBALIK”

Dalam perspektif eskatologi Islam, kondisi ini sejalan dengan tanda-tanda akhir zaman:

Orang jujur dianggap dusta, dan pendusta dipercaya

Ilmu agama dijadikan alat legitimasi, bukan pencerahan

Ulama kehilangan independensi moral

Pakar hadis dari

Al-Azhar University, Ali Gomaa, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari fitnah kubra—ujian besar yang mengaburkan kebenaran dan kebatilan.

SASTRA PROFETIK: SATIRE KRITIS

Di panggung megah kekuasaan,

pena berubah menjadi pedang sunyi—

menulis bukan untuk kebenaran,

melainkan untuk kenyamanan.

Ulama berdiri di mimbar,

namun bayangannya jatuh ke istana.

Ketika suara langit dibungkam bumi,

maka keberkahan pun enggan turun.

LANDASAN
AL-QUR’AN & HADIS

Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan…”
(QS. Al-Baqarah: 42)
Makna:
Ayat ini menegaskan larangan manipulasi kebenaran demi kepentingan duniawi, termasuk kekuasaan.

Hadis Nabi ﷺ:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya…”
(HR. Ahmad)
Makna:
Kondisi di mana kejujuran terbalik, dan kepercayaan diberikan kepada yang tidak layak
—sebuah gambaran nyata
“dunia terbalik.”

CATATAN REDAKSI –
PRESISI INTELEKTUAL GLOBAL

Fenomena ini tidak dapat disederhanakan sebagai hitam-putih. Tidak semua ulama yang dekat dengan penguasa kehilangan integritas, dan tidak semua penguasa menolak nasihat ulama.
Namun, yang menjadi perhatian serius adalah
hilangnya jarak kritis antara otoritas moral dan kekuasaan politik.
Dalam standar jurnalisme investigatif global, relasi ini harus diuji melalui:

  1. Transparansi
  2. Independensi
  3. Akuntabilitas
    Tanpa itu, agama berisiko menjadi alat legitimasi, bukan sumber koreksi.

SOLUSI: MENGEMBALIKAN POROS PERADABAN

Revitalisasi Ulama Independen

Ulama harus kembali pada fungsi amar ma’ruf nahi munkar tanpa tekanan kekuasaan.

Etika Kekuasaan Berbasis Moralitas

Penguasa wajib membuka ruang kritik dan menjadikan ulama sebagai penyeimbang, bukan pelengkap.

Literasi Publik Kritis

Masyarakat harus mampu membedakan antara dakwah yang tulus dan propaganda terselubung.

Institusi Pengawasan Moral

Perlu dibangun lembaga independen lintas agama untuk menjaga integritas moral dalam kebijakan publik.

ANTARA LANGIT DAN ISTANA

Ketika ulama kembali berdiri di atas kebenaran,

dan penguasa belajar menundukkan ego di hadapan hikmah—

maka dunia tidak lagi terbalik.

Karena sejatinya,
bukan ulama yang mendekati kekuasaan,
melainkan kekuasaanlah yang harus tunduk pada kebenaran.

“Dan katakanlah: Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap.”
(QS. Al-Isra: 81)
Makna:
Kebenaran tidak membutuhkan kekuasaan untuk menang—ia hanya membutuhkan keberanian untuk disuarakan.

UngkapKriminal.com
FAKTA BUKAN DRAMA

— Jurnalisme Profetik untuk Keadilan Global